Thursday, August 4, 2022

Apa itu EPIRB?

Kawanlaut! Apa itu Suar Radio Indikasi Posisi Darurat (EPIRB)? Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) adalah perangkat untuk memperingatkan layanan pencarian dan penyelamatan (SAR) jika terjadi keadaan darurat di laut. Ini adalah peralatan pelacak yang mentransmisikan sinyal pada pita tertentu untuk menemukan sekoci, rakit penyelamat, kapal atau orang-orang dalam kesulitan. 

EPIRB merupakan salah satu alat keselamatan kapal berdasarkan aturan Internasional GMDSS (Global Marine Distress Safety System) yang dikeluarkan oleh IMO (International Maritime Organization). Semua kapal harus memiliki alat ini selain radi transponder, navigasi telex dan alat keselamatan kapal lainnya. Dalam bentuk yang lain EPIRB bernama ELT (Emergency Locator Transmitter), yang dipakai oleh crosser pada motorcross atau pembalap di Paris Dakkar, dan bentuknya kecil seperti handphone. 


Contoh Gambar EPIRB

JENIS-JENIS EPIRB 

  1. COSPAS-SARSAT-EPIRBS di bawah sistem COSPAS-SARSAT bekerja pada pita 406.025 MHz dan 121,5 MHz dan berlaku untuk semua wilayah laut. 
  2. INMARSAT E - Pita 1,6 GHz adalah yang digunakan EPIRB ini. Ini berlaku untuk area laut A1, A2, dan A3. 
  3. VHF CH 70 - Ini bekerja pada pita 156,525 MHz dan hanya berlaku untuk area laut A1. 

Bagaimana EPIRB bekerja?

Perangkat ini berisi dua pemancar radio, 5 watt, dan 0,25 watt, masing-masing beroperasi pada 406 MHz, frekuensi standar internasional yang biasanya menandakan marabahaya, 406 MHz. Pemancar radio 5 watt disinkronkan dengan satelit cuaca GOES yang mengelilingi bumi dalam orbit geosinkron. 

EPIRB mengirimkan sinyal ke satelit. Sinyal terdiri dari nomor identifikasi terenkripsi (semua dalam kode digital) yang menyimpan informasi seperti identifikasi kapal, tanggal kejadian, sifat marabahaya dan terutama, posisi. 

UIN adalah Nomor Pengenal Unik yang diprogram ke setiap suar di pabrik. Nomor UIN terdiri dari 15 digit rangkaian huruf dan angka yang membentuk identitas unik suar. UIN berada pada label putih di bagian luar suar. UIN juga disebut sebagai Hex ID. Terminal Pengguna Lokal (Unit Penerima Satelit atau Stasiun Bumi) menghitung posisi korban menggunakan pergeseran doppler yaitu perubahan frekuensi atau panjang gelombang atau peristiwa periodik lainnya untuk pengamat yang bergerak relatif terhadap sumbernya. 

LUT meneruskan pesan ke MRCC (Pusat Koordinasi Penyelamatan Misi). Selanjutnya, MRCC bertanggung jawab atas operasi SAR dan mengawasi pelaksanaan misi penyelamatan. Jika EPIRB tidak kompatibel dengan penerima GPS, satelit geosinkron yang mengorbit bumi hanya dapat mengambil sinyal radio yang dipancarkan oleh radio. Lokasi pemancar atau identitas pemiliknya tidak dapat disimpulkan dalam kasus ini. Satelit ini hanya dapat menangkap elemen jejak dari sinyal tersebut dan mereka hanya dapat memberikan gambaran kasar tentang lokasi EPIRB. Sinyal 406 MHz diperlakukan sebagai sinyal darurat sesuai standar internasional. Sinyal dapat membantu anda menemukan pemancar meskipun jaraknya 3 mil. Kapal atau orang yang berada dalam kesulitan dapat diidentifikasi jika EPIRB terdaftar. 

Jika pemancar memancarkan sinyal 121,5 MHz, penyelamat atau pihak terkait dapat menjangkau orang yang hilang meskipun mereka berada pada jarak 15 mil. Keakuratan mencapai target dapat diperbesar jika EPIRB juga berisi penerima GPS. 

Cara menggunakan EPIRB 

EPIRB perku diaktifkan untuk memancarkan sinyal. Hal ini dapat dilakukan dengan menekan tombol pada unit, atau dapat terjadi secara otomatis jika dan ketika terkena air. 

Varietas yang terakhir dikenal sebagai EPIRB hidrostatik; kualitas membuat EPIRB hidrostatik pilihan terbaik bagi pelaut karena mereka dapat diaktifkan secara otomatis jika kapal atau kapal mengalami kecelakaan dan menemukan dirinya di perairan dalam. 

Hal yang perlu diingat adalah bahwa EPIRB memerlukan aktivasi untuk dapat beroperasi, dan ini hanya dapat terjadi jika ia keluar dari braket tempat ia ditempatkan. Hal ini dapat dilakukan secara manual atau dapat terjadi secara otomatis, seperti yang dikatakan sebelumnya. Perangkat ini pada dasarnya dioperasikan dengan baterai. Ini membantu karena kekuatan adalah entitas pertama yang terpengaruh jika terjadi bencana. 

Cara testing EPIRB 

  1. Tekan dan lepaskan tombol tes pada EPIRB
  2. Lampu merah pada EPIRB harus berkedip sekali
  3. Dalam waktu 30 detik setelah menekan tombol, strobo, serta lampu merah, akan berkedip beberapa kali 
  4. Setelah 60 detik beroperasi, EPIRB akan mati 

Perawatan EPIRB 

  1. EPIRB harus diperiksa secara visual untuk setiap cacat seperti retak
  2. Disarankan untuk membersihkan EPIRB sesekali dengan kain kering
  3. Saat membersihkan, sakelar harus diperiksa secara khusus
  4. Tali lanyard EPIRB harus dikemas dengan rapih ke dalam wadah EPIRB tanpa ujung yang lepas menjuntai. 
  5. Tanggal kadaluwarsa baterai harus diperiksa untuk mencakup setidaknya perjalanan langsung dan berikutnya. 
  6. Kirim EPIRB kembali ke agen layanan atau pemasok jika EPIRB gagal dalam pemeriksaan bulanan
  7. Ganti baterai di pesawat jika fasilitas tersedia atau kirimkan ke agen service jika tidak ada
  8. Jika EPIRB telah digunakan dalam keadaan darurat, EPIRB harus dikembalikan ke agen service resmi untuk penggantian baterai. 
  9. Dalam hal HRU telah melewati tanggal kadaluwarsa, maka HRU harus diganti di atas kapal dan HRU harus ditandai dengan tanggal kadaluwarsa 2 tahun ke depan. 

Untuk baterai, baterai 12 Volt dengan 48 jam kapasitas transmisi biasanya diganti setiap 2 hingga 5 tahun. 


Thursday, July 28, 2022

Ban Pelampung Keselamatan Lifebuoy, Apa Sih?

Hallo KawanLaut! Apakah kalian pernah naik kapal? Pernahkah kalian melihat sebuah benda berbentuk seperti ban dan berwarna orange dalam kapal? Nah.. Benda yang kalian lihat itu disebut Lifebuoy! Kalian pasti bertanya apa sebenarnya benda yang disebut dengan Lifebuoy ini? Mengapa setiap kapal harus memilikinya? Apa fungsinya dalam penyelamatan di air? Bagaimana cara pemakaiannya? Yuk, simak pembahasan berikut! 

A. Apa itu "Lifebuoy"? 

Lifebuoy (pelampung penolong) merupakan salah satu alat keselamatan jiwa perorangan yang berbentuk ring (bulat dengan lubang pada tengahnya), terbuat dari busa yang dilapisi kain atau fiberglass, sehinga dapat menahan tubuh seseorang sebesar 25% anggota tubuh diatas permukaan air. Lifebuoy digunakan dalam upaya evakuasi di perairan yang di desain untuk memberikan daya apung kepada diri penumpang dan ABK saat jatuh di perairan gunanya untuk mencegah korban tenggelam sementara menunggu pertolongan lebih lanjut. 

Lifebuoy ini sendiri memiliki nama lain diketahui yaitu life donut, life ring, ring buoy, kisby ring, dan perry buoy. Kebanyakan lifebuoy memiliki bentuk cincin atau berbentuk seperti tapal kuda dan memiliki tali penghubung agar korban dapat ditarik oleh tim penyelamat ke kapal atau tepian perairan. Lifebuoy tidak hanya terdapat di kapal, namun juga terdapat di pinggiran sungai, laut, dan danau. 

B. Jenis dan Bentuk Life Buoy 

Jika dilihat dari bentuknya dikenal 2 (dua) macam yaitu bentuk lingkaran dan bentuk tapal kuda. Lifebuoy berbentuk lingkaran banyak diperlukan di kapal karena lebih kuat dan praktis. Karena penggunaannya pelampung penolong itu harus dilemparkan, maka ia harus dibuat dari pada bahan yang ringan sekali. 

Jenis-jenis Lifebuoy sebagai berikut : 

Lifebuoy


Lifebuoy with line


Lifebuoy with light


Lifebuoy with light and smoke

C. Jumlah Lifebuoy di atas kapal

Lifebuoy (pelampung) di atas kapal berdasarkan aturan SOLAS bergantung pada panjang dan jenis kapal itu sendiri. Semua Lifebuoy ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat dijangkau dengan cepat serta dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh diikat mati, diharapkan pelampung penolong akan terlepas sendiri dan mengapung jika kapal tenggelam. 

Jumlah lifebuoy untuk kapal penumpang berdasarkan SOLAS III/22.1 sebagai berikut : 

Tabel C.1 Jumlah Minimal Lifebuoy pada kapal penumpang

Jumlah Lifebuoy untuk kapal kargo berdasarkan SOLAS III/32.1 sebagai berikut : 

Tabel C.2 Jumlah Minimal Lifebuoy pada kapal kargo


D. Bagian Lifebuoy
  1. Sebuah Lifebuoy juga dilengkapi dengan tali pendek untuk mengikatkan lampu kalsium, baterai, dan lampu elektrik. 
  2. Lampu kalsium terdiri dari sebuah kaleng yang berisi karbit yang akan menyala sewaktu terkena air dengan sinar kuning serta mengeluarkan asap putih (untuk menunjukkan posisi pelampung saat malam hari). 
  3. Lampu kalsium ini mampu menyala dengan terang selama 40 menit dan lampu elektrik mampu menyala selama 8 jam. 
E. Masa kadaluarsa Lifebuoy

Tidak ada aturan khusus mengenai masa kadaluarsa Lifebuoy, namun inspeksi secara berkala wajib dilakukan. Periksalah kondisi fisik lifebuoy apakah masih dapat mengapung dengan baik, apalah ada tanda-tanda kerusakan seperti retak atau sobek. Selain itu, aksesoris lifebuoy seperti ring buoy light, man overboard dan tempat penyimpanan lifebuoy juga perlu diperiksa apakah masih berfungsi dengan baik. Jangan ragu untuk segera melakukan penggantian apabila ada kerusakan. 

F. Penempatan Lifebuoy di atas kapal : 
  1. Lifebuoy harus ditempatkan pada sisi-sisi terluar kapal di tempat yang terbuka dan mudah untuk dijangkau serta dapat dipindahkan setiap saat (not permanently secured in any way). 
  2. Sekurang-kurangnya 1 (satu) lifebuoy yang terdapat di sisi lambung kapal harus dilengkapi dengan buoyant lifeline
  3. Setengah dari total lifebuoy di kapal harus dilengkapi dengan lampu yang dapat menyala (lifebuoy self igniting lights). 
  4. Sekurang-kurangnya 2 (dua) harus dilengkapi dengan asap semboyan (smoke signal) dan juga harus dilengkapi dengan lampu yang dapat menyala secara otomatis saat terlepas dari bracketnya. Pelampung ini harus ditempatkan pada sisi kiri dan sisi kanan sayap anjungan. 
  5. Sekurang-kurangnya 1 (satu) harus ditempatkan pada haluan kapal, dimana harus dilengkapi dengan buoyant lifeline dengan panjang kurang llebih 30 m. 
  6. Yang diletakkan sisi kanan dan kiri tengah maindeck harus dilengkapi dengan lampu otomatis (self igniting light). 
  7. Sekurang-kurangnya 1 (satu) harus diletakkan di sisi belakang kapal yang harus dilengkapi tali dengan panjang kurang lebih 30 m. 

Gambar D.1 Penyimpanan Lifebuoy pada tempatnya agar dapat terlepas sendiri
Sumber : berbagai sumber


G. Perawatan Lifebuoy di atas kapal

Perawatan pelampung tidaklah sulit namun sekalipun cukup mudah bukan berarti harus diabaikan. Yang bertanggung jawab dalam perawatannya adalah mualim 3 (tiga) Third Officer sebagaimana officer yang harus bertanggung jawab atas alat-alat keselamatan di kapal. 
Berikut cara perawatan Lifebuoy:
  1. Pastikan Retro Reflective Tapes masih dalam keadaan bagus, jika sudah terkelupas ataupun tidak dapat lagi memantulkan cahaya dengan baik maka reflectivenya harus diganti. 
  2. Pastikan nama kapal dan nama tempat register (port of registry) tertulis dan dapat terbaca dengan jelas pada lifebuoy
  3. Pastikan tali (Grabline Secured) masih dalam kondisi yang kuat dengan diameter tali tidak boleh kurang dari 9,5 mm, serta panjang tali (Grabline Length) adalah 4 kali diameter luar dari Lifebuoy tersebut. Misalnya diameternya 800 mm maka panjang Grabline nya adalah 4 x 800 adalah 3200 mm. 
  4. Untuk pelampung yang disertai tali pastikan panjang talinya sesuai dengan aturan dalam SOLAS.
  5. Untuk yang disertai dengan lampu pastikan cahaya lampunya masih dapat berfungsi dengan baik dan sebaiknya periksa secara berkala termasuk tanggal expirednya. Lampu pada lifebuoy harus disertai dengan sertificatnya sebab beberapa inspektor ketika menginspeksi kapal akan memeriksa sertificat tersebut. 
  6. Pastikan berat Lifebuoy tersebut tidak kurang dari 2.5 kg, sedangkan lifebuoy untuk MOB beratnya harus di tidak boleh kurang dari 4,0 kg. 
  7. Pastikan semua pelampung yang ada di atas kapal memiliki sertifikat. 
  8. Pastikan warna badan masih terang yaitu orange for hight visibility

H. Persyaratan Lifebuoy

a) Persyaratan konstruksi Lifebuoy
  1. Memiliki diameter luar 800 mm dan diameter dalam 400 mm. 
  2. Terbuat dari material apung yang padat atau bahan lain yang sepadan yang diakui oleh pemerintah. 
  3. Harus dapat menyangga beban besi minimal seberat 14,5 kg dapat terapung di dalam air tawar selama 24 jam. 
  4. Memiliki massa lebih dari 2,5 kg. 
  5. Tidak terbakar walau terkurung / terkena api selama 2 detik. 
  6. Lifebuoy yang di lengkapi lampu dan isyarat asap harus memiliki masa minimal 4 kg. 
  7. Dilengkapi tali pegangan keamanan (grab line) dengan diameter minimal 9,5 mm dengan panjang tali 30 m atau 4 x diameter luar. 
  8. Tahan terhadap pengaruh minyak atau hasil-hasil minyak lainnya. 
  9. Mampu menahan benturan dengan air ketika dilemparkan dari ketinggian 30 meter, termasuk komponen pelengkapnya. 
  10. Mempunyai warna yang mudah dilihat dilaut, seperti diberi warna yang mencolok biasanya warna oranye atau merah untuk lifebuoy
  11. Nama kapal dan pelabuhan induk pada lifebuoy ditulis dengan hurus kapital guna menunjukkan kepemilikan adalah kapal yang tertulis tersebut. 
  12. Pelampung penolong yang diisi dengan rumput kering, sisa-sisa gabus atau yang daya apungnya tergantung dari ruangan udara yang perlu ditiup, tidak boleh digunakan. 
  13. Pelampung penolong boleh berbentuk lingkaran penuh atau tapal kuda (U). Untuk lingkaran dalam pelampung yang berbentuk lingkaran penuh paling sedikit 45 cm. Pelampung yang berbentuk tapal kuda harus diberi penguat sedemikian rupa sehingga bagian yang terbuka akan tetap berukuran 35-40 cm. 
b) Persyaratan lampu pada Lifebuoy
  1. Lampu lifebuoy dapat menyala secara otomatis (self igniting light) bila pelampung di jatuhkan ke laut. 
  2. Tetap menyala bila kena air
  3. Arah pancaran lampu keliling dan bila merupakan cerlang paling sedikit 50 cerlang / menit. 
  4. Lampu lifebuoy dapat bertahan nyala paling tidak 2 jam. 
  5. Di kapal tangker, battery harus dari bahan elektrik seperti baterai. 
c) Persyaratan Isyarat Isap : 
  1. Harus dapat beroperasi / aktif secara otomatis bila penumpang di jatuhkan ke laut
  2. Dilengkapi smoke signal yang mengeluarkan asap dengan warna mencolok selama paling sedikit 15 menit secara terus-menerus bila terapung. 
  3. Tetap mengeluarkan asap walaupun tertiup angin. 
  4. Tetap dapat bekerja walaupun terendam dalam air selama 10 detik. 
  5. Tidak rusak bila di jatuhkan dari ketinggian di mana pelampung di tempatkan. 
d) Persyaratan tali Lifebuoy
  1. Tidak mudah rapuh
  2. Memiliki diameter tidak kurang dari 0,8 cm 
  3. Memiliki kekuatan putus tidak kurang dari 5 kN (kN : Kilo Newton) 
  4. Dilengkapi dengan tali-tali pegangan yang diikat di sekeliling pelampung dengan kuat, dan pada sebuah kapal paling sedikit terdapat sebuah pelampung penolong, dilengkapi dengan tali buangan yang terapung dengan panjang minimal 27,5 m. 
e) Persyaratan tambahan Lifebuoy
  1. Ditempatkan sedemikian rupa sehingga siap untuk dipakai dan cepat tercapai tempatnya oleh setiap orang yang ada di kapal. Dua diantaranya dilengkapi dengan lampu yang menyala secara otomatis pada malam hari dan mengeluarkan asap secara otomatis pada waktu siang hari. 
  2. Cepat dapat dilepaskan, tak boleh diikat secara tetap dan cepat pula dilemparkan dari anjungan ke air. 
I. Cara penggunaan Lifebuoy di kapal : 

Pelampung penolong digunakan ketika berada di air. Posisi bahan dalam keadaan terlengtang ketika telah menggunakan pelampung penolong. Petunjuk penggunaan lifebuoy di air, sebagai berikut : 
  1. Berenanglah ke arah lifebuoy (pelampung penolong)
  2. Saat pelampung penolong berada dalam jangkauan (badan menghadap ke pelampung)
  3. Tekan sisi pelampung penolong pada bagian yang dekat dengan anda, menggunakan kedua tangan yang akan membuat sisi pelampung lainnya naik melewati kepala sehingga badan masuk ke lubang / lingkaran pelampung. 
  4. Apabila pelampung penolong dilengkapi dengan tali penyelamat, pastikan simpul tali penyelamat berada di belakang tubuh. Hal ini akan menyebabkan anda bergerak mundur saat tali penyelamat ditarik oleh penolong sehingga memudahkan dalam penarikan dan ombak yang datang dari arah belakang tidak langsung mengenai wajah. 
  5. Masukkan lengan tangan ke tali pegangan guna pengait pelampung agar tidak terlepas apabila terhempas ombak. 
  6. Pegang tali pegangan sebelah kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya untuk memperkuat kaitan terhadap pelampung penolong. 
  7. Dengan posisi terlentang bergeraklah mundur menggunakan kaki. 

Tujuan dari standar keselamatan ini adalah untuk mencegah terjadinya insiden yang tidak diinginkan. Peralatan pelempar tali memiliki berbagai macam aplikasi, dan perhatian khusus yang harus diberikan untuk memastikan bahwa peralatan tersebut dirawat dan dipelihara secara rutin. 

Referensi 

[1] https://tbmjanarduta.fkunud.com/trivia-122-life-buoy-donat-penyelamat-di-perairan/[ Accessed July 2022].

[2] https://www. karyapelaut.com/2022/01/berat-dan-jumlah-lifebuoy-yang-ada-di.html [Accessed July 2022].

[3] http://kapal-cargo.blogspot.com/2010/07/pelampung-penolong-life-buoy.html [Accessed July 2022].

[4]https://nauticalpha.wordpress.com/2018/10/13/rangkuman-tentang-solas-chapter-iii-life-saving-appliance/ [Accessed July 2022].

[5] https://www.kapaldanlogistik.com/2021/03/safety-equipment-alat-keselamatan-di.html/[Accessed July 2022]. 

[6] https://jpe-pencerahan.blogspot.com/2009/11/regulasi-solas.html?m=1 [Accessed July 2022]. 

[7] https://gumbalid.weebly.com/home/mengenal-life-buoy-pelampung-penolong-yang-ada-di-atas-kapal [Accessed July 2022]. 

[8] http://www.seputarpelaut.website/2018/03/penggunaan-tiap-tiap-jenis-alat.html?m=1 [Accessed July 2022]. 


Tuesday, July 12, 2022

Apa Itu Pyrotechnics Roket Parachute Flare, Hand Flares, and Buoyant Smoke Signal?

Hallo KawanLaut!

Kalian tau gak apa itu Pyrotechnics? Pyrotechnics adalah ilmu menggunakan bahan yang mampu menjalani reaksi kimia eksotermik mandiri dan mandiri untuk produksi panas, cahaya, gas, asap dan / atau suara. Digunakan dalam situasi darurat yang eksterm, Pyrotechnics ini disediakan di atas kapal untuk menarik perhatian / menginformasikan kapal dalam jangkauan sehingga dapat mencari bantuan dan mendapatkan bantuan dari kapal lain untuk proses penyelamatan. Pada dasarnya, ini adalah metode visual untuk mengirim sinyal SOS. Pyrotechnics ini digunakan pada saat keadaan darurat yang disebutkan dalam Annex 4 of COLREGs. 

Dalam peristiwa yang tidak menguntungkan (seperti situasi 'kapal yang ditinggalkan') di mana kapal sendiri tidak dapat diselamatkan, Pyrotechnics dapat menjadi salah satu pilihan terakhir untuk kelangsungan hidup dan penyelamatan personel kapal di laut. Representasi bergambar untuk penggunaan di laut ditampilkan pada sampul masing-masing unit yang disebutkan di bawah ini. 

Peletakan Pyrotechnics di atas kapal (dalam catatan persyaratan pengangkutan minimum sesuai SOLAS) 

1. Bridge (Anjungan Kapal)

  • Hand Flares (6 item) 
  • Rocket Parachute Flares (12 item) 
  • Buoyant smoke signal ( 2 item; 1 tiap sisi, port side dan starboard side) 
  • Line throwing appliance (minimal 1) 
2. Lifeboat 
  • Hand Flares (6 item) 
  • Rocket Parachute Flares (4 item) 
  • Buoyant smoke signal (2 item) 
Berbagai jenis Pyrotechnics yang ada di atas kapal : 

1. Hand Flare 

Hand Flare adalah tongkat silinder kecil yang ketika diaktifkan, menghasilkan asap merah yang intens atau cahaya tanpa ledakan. Harus ditahan di luar angin saat diaktifkan. Dapat digunakan pada siang dan malam hari. 


Gambar 1. Contoh Hand Flare


2. Rocket Parachute Flare

Seperti namanya, peralatan ini dirancang untuk menembakkan satu bintang merah hingga ketinggian sekitar 300 m; suar ini, diluncurkan pada ketinggian minimum 300m di udara, mengaktifkan sendiri untuk menghasilkan asap merah yang intens. Parasut terbuka dan mengurangi laju penurunan yang memberi lebih banyak waktu pada suar untuk teteap berada di ketinggian dan untuk memberikan padangan yang jelas ke kapal atau bantuan terdekat. 


Gambar 2. Contoh Rocket Parachute Flare


3. Buoyant Smoke Signals 

Peralatan teknologi pyro ini disimpan dalam wadah dengan sifat apung sehingga dapat mengapung di permukaan air untuk menandakan situasi marabahaya. Sebagian besar untuk digunakan pada siang hari, ini dapat menunjukkan posisi marabahaya dengan asap oranye terang serta untuk menentukan arah angin untuk penyelamatan. 


Gambar 3. Contoh Buoyant Smoke Signals

4. Line Throwing Appliances 

Alat pelempar garis bukanlah peralatan pensinyalan marabahaya, tetapi peralatan penangkal dalam situasi darurat. Ini digunakan agar koneksi dibuat dalam hal garis yang kuat antara kapal yang mengalami keadaan darurat dan kapal yang aman (untuk membuat jembatan) untuk melewati jalur penarik atau jenis bantuan lain. 


Gambar 4. Contoh Line Throwing Appliances


Pemeliharaan dan pembuangan Pyrotechnics 

  1. Semua Pyrotechnics harus disimpan dalam penyimpanan yang aman dengan kasing ditutup dengan benar. Ini sangat penting setelah pengarahan keselamatan kepada personel di atas kapal sehubungan dengan penggunaan Pyrotechnics. 
  2. Jauhkan Flare dari bahan bakar atau bahan yang mudah terbakar dan simpan di tempat kering yang mudah diakses. 
  3. Melakukan pekerjaan pemeliharaan (pembersihan, pemeriksaan tanggal kadaluwarsa dll) setiap minggu maupun bulanan sesuai jadwal pemeliharaan LSA kapal seperti yang diinstruksikan berdasarkan persyaratan ISM perusahaan. 
  4. Dalam hal berakhirnya masa berlaku Pyrotechnics di laut, Pyrotechnics dibuang ke entitas yang berwenang di pelabuhan. Jangan membuangnya ke laut atau menggunakannya setelah kadaluwarsa; menjadi produk yang menghasilkan eksotermik, penggunaan setelah kadaluwarsa bisa berisiko. 

Monday, July 11, 2022

Apa sih Immersion Suits And Anti Exposure Suits?

Hallo KawanLaut! Kalian tau Immersion Suit gaksih? kali ini kita akan membahas tentang Immersion Suits and Anti Exposure Suits, mungkin KawanLaut pernah mendengar atau pernah sedikit membaca sebelumnya tentang alat keselamatan ini? yuk sama-sama kita bahas tentang Immersion Suits and Anti Exposure Suits yuk.. 

Pada Tahun 1912 pernah terjadi sebuah tragedi yang cukup memilukan, pastinya Kawan Laut sudah tidak asing lagi mendengar kata "Titanic", sebuah tragedi yang dikemas menjadi sebuah film pada Tahun 1997, dimana didalamnya menceritakan tentang kecelakaan sebuah kapal penumpang suber Britania Raya yang tenggelam di Samudra Atlantik Utara setelah menabrak sebuah gunung es pada pelayaran perdananya dari Southampton, Inggris ke New York, Amerika Serikat yang mengakibatkan kematian sebanyak 1.514 orang. 

Meski Titanic mempunyai perlengkapan keamanan yang maju pada masanya seperti kompartemen kedeap air dan pintu kedap air yang bisa dioperasikan dari jarak jauh, tetapi tetap saja tidak bisa dipungkiri bahwa tabrakan yang menggesek ini mengakibatkan pelat lambung Kapal Titanic melengkung ke dalam di sejumlah tempat di sisi kanan kapal dan mengoyak lima dari enam belas kompartemen kedap airnya. Selama dua setengah jam selanjutnya, kapal perlahan terisi air kemudian patah dan haluannya tenggelam bersama seribu penumpang di dalamnya. Orang-prang yang terjatuh ke dalam air meninggal dalam hitungan menit akibat hipotermia karena bersentuhan langsung dengan air di samudra yang sangat dingin, 

Kawan Laut tahukah kalian bahwa perkembangan teknologi di dunia sudah terjadi sejak abad ke-20 atau lebih tepatnya pada saat terjadinya Perang Dunia II. Dan hal tersebut terus berkembang hingga sekarang di masa modern seperti ini. Perkembangan teknologi sendiri tentu memberikan banyak manfaat bagi manusia khususnya memudahkan aktivitas dan pekerjaan. 

Kawan Laut, pasti pernah memegang bongkahan es batu yang ada di dalam kulkas kan? Bagaimana rasanya? Dingin kan? Rata-rata suhu tubuh manusia normal adalah berkisar antara 36.5 sampai 37.5°C, karena perubahan tersebut merupakan kondisi fisiologis yang normal. Akan tetapi, suhu tubuh juga dapat meningkat akibat adanya perbedaan suhu lingkungan dan kelembapan udara yang relatif tinggi. Belajar dari kisah Titanic, ketika perkembangan teknologi semakin berkembang terciptalah sebuah alat keselamatan diatas kapal yang dinamakan Immersion Suits and Anti Exposure Suits, dimana keduanya mempunyai fungsi yang hampir sama, namun ada sedikit perbedaan dimana anti-exposure suit haruslah memiliki gaya apung 70 Newton. 

Berdasarkan Konvensi Internasional untuk Keselamatan Penumpang di Laut atau The International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS), di atas kapal wajib tersedia alat keselamatan kapal berupa life personal saving (alat keselamatan diri individu) salah satunya adalah Immersion Suit. 




Gambar 1. Bentuk Alat Keselamatan Jiwa Immersion Suits And Anti Exposure Suits


Immersion suit adalah pakaian khusus yang dapat membuat penggunanya tetap mengapung di atas permukaan laut. Bentuknya seperti baju selam, akan tetapi dengan ukuran yang lebih longgar dan tebal karena terdiri dari beberapa lapisan. Baju khusus ini juga sering disebut dengan survival suit atau pakaian cebur, atau baju pelindung dari suhu panas ataupun dingin, karena alat keselamatan kapal yang satu ini juga dapat menjaga suhu tubuh pemakainya agar tetap hangat. Karena itu survival suit ini tahan terhadap suhu ekstrim dan da[at menjaga pemakainya agar tidak hipotermia. Sedangkan Anti Exposure Suit adalah pakaian pelindung yang didesain untuk digunakan pada saat penyelamatan dengan rescue boat dan marine evacuation parties. 


Gambar 2. Detail Bagian dari Immersion Suits and Anti Exposure Suits

Banyak faktor yang mempengaruhi dalam penggunaan alat keselamatan yang satu ini, dimana alat tersebut harus sesuai dengan persyaratan yang sudah ditentukan oleh masing-masing Negara yang berdasarkan kepada Life Saving Appliances (LSA) Code, Safety of Life at Sea (SOLAS) dan International Maritime Organization (IMO), sedangkan di Indonesia sendiri banyak persyaratan yang mengatur tentang standar yang diberikan kepada Alat Keselamatan Jiwa Immersion Suits and Anti Exposure Suits dan persyaratan tersebut tak lepas dari pengujian yang dilakukan untuk mengetahui standar penggunaan sebelum Alat Keselamatan Jiwa Immersion Suits and Anti Exposure Suits beredar di pasaran. 

Gambar 3. Prosedur Pengujian

KESIMPULAN

Immersion Suits and Anti Exposure Suits sangat penting keberadaannya di atas kapal, hal tersebut dapat terlihat karena sudah menjadi standar dan persyaratan mutlak yang mengacu pada Life Saving Appliances (LSA) Code, Safety of Life at Sea (SOLAS) dan International Maritime Organization (IMO). Pada saat terjadi kecelakaan kapal Immersion Suits and Anti Exposure Suits sangatlah berguna untuk kru dan penumpang kapal demi keselamatan jiwa pada setiap individu untuk mencegah terjadinya hipotermia akibat pengaruh dinginnya suhu air dilautan. Service rutin yang dilakukan secara berkalapun menjadi hal penting untuk masa pakai alat keselamatan jiwa tersebut, dan pengujian pada saat sebelum alat tersebut beredar di pasaran menjadi point utama yang harus dilakukan di setiap Negara demi menjamin alat keselamatan jiwa yang dimaksud dapat berfungsi dengan baik. 


REFERENSI 

[1] Ali, G. S (2010). (7) Adaptasi-Suhu-Tubuh-Terhadap-Latihan. Jurnal Olahraga Prestasi, 6(2), 123-134.

[2] Brooks, C. J. (2008). Immersion Suits : Their Development. Survival at Sea For Mariners Aviators and Search and Rescure Personel, 1-14. 

[3] Easa, F. R (n.d.). CIMSCY Crew Immersion Suits Conspicuity

[4] For, G., Testing, P., Immersion, O. F., Seamsclosures, S.S., Maritime, T., Committee, S., Design, S., & Governments, M. (2004). I:\circ\msc\1114.doc. 1-4.

[5] IMO. (2009). SOLAS- International Convention for the Safety of Life at Sea, 1-910. http://www.mar.ist.utl.pt/mventura/Projecto-Novios-I/IMO-Conventions (copies)/ SOLAS.pdf










Sunday, July 10, 2022

Apa itu Pengujian Marine Evacuation System?

Hallo KawanLaut!, kalian tau gak sih apa itu Pengujian Marine Evacuation System ?

Definisi Marine Evacuation System adalah perangkat penyelamat jiwa yang banyak terdapat pada kapal penumpang modern, yang terdiri dari seluncuran tiup atau sebuah saluran yang dapat digunakan untuk mengevakuasi penumpang langsung ke rakit penolong. 

Tujuan Marine Evacuation System adalah untuk mengevakuasi jumlah penumpang maksimum dengan aman dalam waktu yang minimum. Dengan begitu pentingnya alat ini maka diperlukan suatu pengujian agar alat ini dapat berfungsi dengan baik, untuk itu ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan di dalam pengujian alat ini. Berikut akan kami informasikan jenis pengujian seperti apa saja yang di lakukan. 


Uji Material - Uji Tarik

A. Uji Kekuatan Tarik (Tensile Strenght Test

  • Kekuatan tarik harus minimum 2.25 N/50 mm lebar untuk lungsin dan pakan
  • Perpanjangan maksimum harus 30% di atas panjang pengukur 200 mm, perpanjangan harus dinyatakan sebagai presentase dari panjang uji awal antara rahang. 
  • Jika dua lapisan kain lantai disediakan untuk membentuk lantai tiup, lantai utama harus seperti yang ditentukan.
  • Lappisan dalam / luar dapat memiliki kekuatan tarik minimum 1.470 N / 50 mm lebar dalam arah lungsin dan pakan. 

Peralatan Pengujian 

  1. Standar ISO masing-masing alat 
  2. Contoh perlengkapan kapal yang akan diuji (MES) 


Uji Material - Uji Kekuatan Sobek 

B. Uji Kekuatan Sobek (Tear Strength Test

  • Dari sampel uji, potong tiga spesimen masing-masing dalam arah lungsin dan pakan
  • Genggam spesimen yang diuji dengan aman dan merata di sepanjang genggaman, dimana harus terpisah sepanjang 200 mm, sehingga panjang spesimen mendekati arah tarikan. 
  • Jika dua lapisan kain lantai disediakan untuk membentuk lantai tiup, lantai utama harus seperti yang ditentukan.
  • Lapisan dalam / luar dapat memiliki kekuatan tarik minimum 1.470 N / 50 mm lebar dalam arah lungsin dan pakan. 
  • Beban maksimum yang dipertahankan dicatat sebagai kekuatan sobek luka (wound tear strength, dan rara-rata untuk ketiga spesimen dihitung. 

Kriteria Penerimaan : 

  1. Kekuatan sobek minimum harus 1.030 N. dalam arah lungsin dan pakan. 
  2. Lapisan dalam / luar mungkinkan untuk memiliki kekuatan sobek minimum 735 N dalam arah lungsin dan pakan. 

Peralatan Pengujian

  1. Standar ISO masing-masing alat
  2. Contoh perlengkapan kapal yang akan diuji (MES)


Uji Material - Daya Penerimaan Permukaan dan Adhesi Lapisan Permukaan 

C. Daya Penerimaan Permukaan dan Adhesi Lapisan Permukaan

  • Setiap permukaan yang dilapisi harus diuji. Spesimen harus dibuat seperti pada ISO 2411:2000 tentang ikatan like- coated face dalam bagian like - coated face. 
  • Ikatan yang digunakan dan metode aplikasi harus disepakati antara pabrikan liferaft dan pabrikan kain, dan harus sama dengan yang digunakan dalam pembuatan liferaft. 
  • Pada setiap spesimen uji, ikatan antara perekat atau weld dan dengan pelapis harus diukur pada awalnya untuk menentukan kemampuan penerimaan permukaan. 
  • Adhesi lapisan ke tekstil dasar kemudian diukur dengan cara memotong satu lapisan pelapis (coat) untuk memulai mode pemisahan yang diperlukan. 
  • Adhesi lapisan pada tekstil dasar, spesimen harus direndam selama 24 jam dalam larutan natrium klorida cair 3% pada suhu 20 ± 2°C. Pada akhir perode pencelupan spesimen harus dikeluarkan dari larutan. 

Kriteria penerimaan 

  1. Kemampuan penerimaan permukaan pada kedua sisi tidak boleh kurang dari 75 N / 50 mm lebar
  2. Adhesi lapisan permukaan kering diperlukan minimal 75 N / 50 mm. 
  3. Adhesi lapisan permukaan basah diperlukan minimum 50 N / 50 mm. 

Peralatan Pengujian 

  1. Standar ISO masing-masing alat
  2. Contoh perlengkapan kapal yang akan diuji (MES) 


Uji Material 

1. Lenturan pada Suhu Rendah 

  • Suhu tidak lebih tinggi dari - 50°C. Harus ada enam spesimen uji, tiga potong dengan sisi panjang sejajar denganlungsin dan tiga potong dengan sisi panjang sejajar dengan arah pakan. 
  • Saat diuji pada suhu rendah yang ditentukan tidak boleh ada spesimen yang menunjukan retakan.

2. Flex Cracking 

  • Setelah spesimen dikondisikan dengan memaparkan permukaan luar pada larutan natrium klorida cair 3% selama tujuh hari pada 20 ± 2°C, dilakukan pengujian sesuai ISO 7854:1995. 
  • Setelah 200.000 pelenturan, tidak ada retakan atau delaminasi yang boleh terlihat saat diperiksa dengan faktor pembesaran 2 kali lipat. 

3. Porositas 

  • Diuji dengan metode yang ditentukan di bawah ini dan dengan tekanan 27,5 kPa diteraokan dan dijaga pada kain. 
  • Seharusnya tidak ada tanda-tanda kebocoran selama periode minimum 5 menit. 

4. Resitensi terhadap minyak 

  • Diuji selama 2 jam pada 20 ± 2°C, tidak boleh ada pemisahan lapisan dari tekstil dan tidak ada kelekatan residu saat dua wajah yang terbuka ditekan bersama. 
  • Tes harus dilakukan tidak kurang dari 16 jam setelahnya vulkanisasi atau penyembuhan. 

5. Distorsi Pakan 

  • Sebuah garis harus ditarik melintasi kain di sudut kanan ke tepi tenunan yang dianyam. 
  • Distorsi tidak boleh lebih dari yang setara maksimum 100 mm di atas lebar kain 1,5 m. 

6. Resitensi terhadap pemblokiran 

  • Kain harus menunjukan tidak ada pemblokiran. 


Uji Material - Alternatif Resistensi Ultra Violet 

E. Alternatif Resistensi Ultra Violet 

  • Spesimen harus diekspos dalam kondisi siklus gelap dan siklus cahaya, dengan menggunakan peralatan Xenon Arx berpendingin air dengan pendingin terkendali untuk total waktu paparan 150 jam. 
  • Setelah pemaparan, dilakukan uji tarik kembali untuk menguji hasil penuaan. 
  • Dilakukan pemeriksaan visual.
  • Perbedaan dari uji Resistensi UV adalah pada tipe busurnya, yaitu Xenon Arc.

Kriteria Penerimaan 

  1. Kekuatan tarik harus tidak kurang dari 90% dari kekuatan tarik asli sebelum terjadi penuaan dikarenakan waktu. 
  2. Tidak boleh ada retakan. 

Wednesday, June 22, 2022

Life Raft Alat Bertahan Hidup Di Laut, Mengapa Life Raft Itu Penting?

Hallo Kawanlaut! Alat keselamatan sudah menjadi barang yang wajib ada pada setiap kapal. Salah satu alat keselamatan yang paling serbaguna adalah Life Raft. Alat ini terdiri dari berbagai macam alat keselamatan saat terjadi situasi darurat. Mari mengenal lebih lanjut tentang Life Raft alat keselamatan dalam artikel berikut ini.

1. Pengenalan fungsi

Apa Itu Life Raft?

Life Raft adalah salah satu alat safety kapal yang berfungsi untuk menyelamatkan para penghuni kapal pada situasi darurat yang mengharuskan penumpang meninggalkan kapal. Alat ini bisa dibilang merupakan sekoci darurat atau rakit penolong. Sering juga disebut dengan Inflatable Life Raft karena ketika digunakan, alat ini mengembang seperti ditiup angin.

Bentuk Life Raft berbeda jauh ketika masih di atas kapal dan saat di atas air laut. Saat belum digunakan, life raft memiliki bentuk seperti tabung fiberglass berwarna putih atau seperti pada contoh gambar dibawah ini.

Gambar 1 : Life Raft yang belum diluncurkan 


Jika waktunya digunakan, life raft yang sebelumnya berbentuk seperti tabung fiberglass berwarna putih, maka akan berubah bentuk seperti perahu karet dengan tenda pelindung atau pada contoh gambar dibawah ini.


Gambar 1 : Life Raft yang sudah diluncurkan 

Persyaratan Life Raft

Kesepakatan tentang alat keselamatan kapal yang tertuang dalam regulasi SOLAS (Safety of Life at Sea) mengatur seperti apa life raft yang baik dan benar. Berikut ini beberapa persyaratan life raft menurut aturan SOLAS.
  1. Harus tahan terhadap semua kondisi laut selama 30 hari.
  2. Harus dapat bekerja dengan baik saat dilemparkan ke laut dari ketinggian 18 m.
  3. Harus tahan beberapa kali lompatan dari ketinggian minimal 4,5 m.
  4. Konstruksi life raft dan perlengkapannya harus tahan terhadap penarikan dengan kecepatan 3 knot di air tenang dengan muatan penuh oleh orang dan peralatan serta dengan salah satu jangkar lautnya.
  5. Memiliki kanopi untuk melindungi penumpang dari pengaruh lingkungan, yang secara otomatis terpasang pada saat liferaft mengembang di atas permukaan air.
  6. Memiliki kapasitas maksimal untuk 8 orang.
  7. Berat life raft, wadahnya dan perlengkapannya tidak boleh lebih dari 185 kg.
  8. Dilengkapi dengan hidrostatis yang efisien (hru).
  9. Dilengkapi dengan setidaknya satu jendela untuk memandang ke luar.
  10. Dilengkapi dengan sarana pengumpulan air hujan.
  11. Memiliki warna yang mencolok, misalnya oranye.
Alat-alat yang harus ada didalam Life Raft

Menurut SOLAS, setiap life raft harus berisi alat-alat berikut ini:
  1. Pisau sebanyak 1 atau 2, menyesuaikan kapasitas liferaft.
  2. Gayung sebanyak 1 atau 2, menyesuaikan kapasitas liferaft.
  3. 2 spons.
  4. 2 dayung apung.
  5. 3 pembuka kaleng.
  6. 2 jangkar laut.
  7. 1 gunting.
  8. 1 kotak tahan air P3K.
  9. 1 peluit.
  10. 1 obor tahan air untuk mengirim kode morse dengan 1 set baterai dan bohlam cadangan.
  11. 1 cermin sinyal / heliograf.
  12. 1 reflektor radar.
  13. 1 kartu tahan air sinyal penyelamat hidup.
  14. 1 alat pancing.
  15. Jatah makanan tidak kurang dari 2.390 kilo kalori untuk setiap orang.
  16. Jatah air (1,5 liter air tawar untuk setiap orang)
  17. 1 wadah minum tahan karat.
  18. Obat anti mabuk laut dan satu kantong mabuk laut untuk tiap orang.
  19. Buku tentang survival atau cara bertahan hidup.
  20. Alat piroteknik untuk memberi sinyal darurat (6 hand flare, 4 rocket parachute flare, 2 smoke signal)
Aksesoris Life Raft

Life Raft memiliki beberapa aksesoris penunjang yaitu ratchet belt dan hru  for life raft. Kedua alat ini harus dalam keadaan stand by dan belum digunakan. Untuk lebih ricinya adalah:
  1. Ratchet belt adalah semacam sabuk yang bertugas mengikat tabung life raft pada wadahnya.
  2. Hru for liferaft adalah alat Hydrostatic Release Unit (HRU) yang berfungsi untuk meluncurkan liferaft secara otomatis pada saat kapal tenggelam.
Peluncuran Life Raft
  1. Peluncuran life raft menggunkan aktivasi Hydrostatic Release Unit (HRU)
  • Saat kapal tenggelam hingga 4 meter, tekanan air akan mengaktifkan pisau tajam di HRU
  • Pisau ini akan memotong tali pengaman di sekitar wadah / tabung liferaft dan akan mengapung bebas
  • Saat kapal tenggelam lebih jauh, tali painter akan meregang dan akan mengembangkan life raft dengan tarikannya
  • Karena kenaikan tekanan air dan daya apung, sambungan tali yang lemah akan putus sekitar 2,2 kN +/- 0,4 dan liferaft nya akan berada di permukaan.
    2. Meluncurkan life raft secara manual
  • Pastikan tali painter terikat ke sisi kapal pada titik yang kuat
  • Lepaskan pagar dan periksa ke luar untuk menghilangkan penghalang
  • Lepaskan kait dari cradle
  • Dua orang mengangkat life raft dan membuangnya ke laut
  • Setelah dilempar, tarik tali painter dengan kencang sampai liferaft mengembang
  • Dengan tetap menarik painter, tarik ke arah sisi kapal
  • Turunkan tangga embarkasi atau langsung terjun ke life raft tergantung situasi dan waktu yang tersedia
  • Duduklah berhadapan secara tatap muka untuk mencegah ketidakseimbangan life raft
  • Pastikan SART dan EPIRB telah diaktifan
  • Hitung berapa orang personil yang naik
  • Potong painter dengan menggunaken pisau yang disediakan dan gunakan dayung atau jangkar laut, menjauh dari kapal
  • Jika life raft mengembang dan terbalik, ia memiliki tali pengikat yang mampu menstabilkannya. Naik ke silinder CO2 dan tarik ke arah yang sama seperti arah angin untuk melakukannya.
    3. Meluncurkan life raft dengan davit
  • Lepaskan pagar
  • Lepaskan lashing dari wadah
  • Turunkan davit dan kunci dengan pengait untuk diangkat
  • Tarik painter keluar sekitar 5-6 meter
  • Amankan tali painter
  • Tarik painter panjang penuh
  • Angkat tabung life raft sampai ketinggian tertentu
  • Tarik painter dengan kemcang dan biarkan mengembang
  • Setelah mengembang, kencangkan liferaft
  • Satu orang harus masuk dan melakukan pengecekan
  • Kumpulkan SART dan EPIRB
  • Masuklah ke dalam dan duduklah merata
  • Lepaskan tali bowsing
  • Periksa area peluncuran yang tepat
  • Turunkan liferaft dengan menggunakan pelepasan brake
  • Mengoperasikan pelepasan kait/ hook 1m di atas air atau membiarkan life raft menaiki puncak gelombang untuk meletakkan beratnya di atas air dan secara otomatis akan lepas kaitan tersebut
  • Potong painter
1. Perawatan dan Masa Kadaluarsa Life Raft

Gambar 3: Masa service Life Raft

    Sama seperti alat safety kapal pada umumnya, life raft juga harus dirawat dengan baik dan memiliki masa kadaluarsa. Life raft harus diservice alias dilakukan pengecekan rutin setiap satu tahun sekali. Seperti pada contoh gambar 3 tertera tulisan “Nex Service November 2020”.

Dalam masa service tersebut, dilakukan pengecekan terhadap semua alat yang ada di life raft mulai dari tabung, makanan darurat, alat piroteknik, dll. Apabila ada komponen yang rusak maka harus segera diganti.

Masa kadaluarsa life raft bergantung pada banyak faktor. Misalnya life raft yang terpasang pada kapal dengan kilometer tempuh yang tinggi akan membuat tabung life raft jadi lebih rapuh sehingga berpengaruh terhadap masa kadaluarsanya. Tapi dengan perawatan yang baik, liferaft dapat tahan lama bahkan hingga belasan tahun.

2. Jenis Life Raft

Life raft memiliki beberapa tipe, antara lain:

a. Life raft yang diluncurkan dengan sistem Davit
  • Liferaft yang diluncurkan dengan sistem davit harus dihubungkan ke sistem davit dan kemudian dikembangkan di atas dek, sehingga memungkinkan penumpang untuk naik rakit dari dek. Rakit ini kemudian diluncurkan ke air. Liferaft harus setidaknya 9 meter ke depan menjauhi baling-baling kapal.
b. Life raft yang memperbaiki posisi sendiri (Self-righting liferaft)
  • Liferaft yang berubah secara otomatis dari posisi terbalik ke posisi tegak.
c. Throw over life raft Liferaft throw-overboard dilepaskan dari cradle dan kemudian dilempar ke laut, atau meluncur secara otomatis saat dilepaskan. Ketika memasuki air, life raft mengembang menarik tali pemicu dan ‘kemudian siap untuk dinaiki.

3. Arragement Life Raft Diatas Kapal

    Saat belum digunakan, life raft memiliki bentuk seperti tabung fiberglass berwarna putih. Biasanya life raft diletakkan di sisi kiri dan kanan kapal dekat sekoci/lifeboat agar mudah dilempar ke laut saat hendak digunakan. Tidak banyak penumpang kapal yang mengenalinya, padahal alat ini memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu menyelamatkan jiwa penghuni kapal saat terjadi kondisi gawat darurat.

Saat digunakan, tabung putih life raft akan dilempar ke laut. Kemudian akan ada seutas tali yang ditarik. Tali tersebut akan memicu pompa di dalam tabung liferaft untuk mulai bekerja memompa liferaft sehingga tabung terbuka dan liferaft pun terkembang dengan sempurna, membentuk kapal pelampung dengan penutup di atasnya.

Kesimpulan

Life Raft adalah salah satu alat safety kapal yang berfungsi untuk menyelamatkan para penghuni kapal pada situasi darurat yang mengharuskan penumpang meninggalkan kapal. Alat ini bisa dibilang merupakan sekoci darurat atau rakit penolong yang bertahan terhadap semua kondisi laut selama 30 hari dengan kapasitas maksimal untuk 8 orang.

Kesepakatan tentang alat keselamatan kapal yang tertuang dalam regulasi SOLAS (Safety of Life at Sea) mengatur Life Raft baik yang berkaitan dengan pesyaratan life raft mauapun alat-alat kelengkapan di dalam Life Raft sehingga bisa dipergunakan dengan secara efektif dan efisien.

Referensi



http://52prayoga.blogspot.com/2017/10/penjelasan-umum-mengenai-life-raft.html




Friday, June 17, 2022

Lifejacket, Apa itu?

Hallo KawanLaut! 

1. Pengenalan Fungsi Lifejacket

    Lifejacket atau jaket pelampung merupakan salah satu perangkat keselamatan yang penting dan harus tersedia di kapal. Lebih dari dua pertiga penyebab musibah kapal adalah tenggelamnya kapal dan 90% dari korban tenggelam tidak menggunakan jaket pelampung [1].
Lifejacket Sesuai Standar SOLAS

Ketentuan itu antara lain sebagai berikut [1] :
  1. Harus dilengkapi dengan pluit dan lampu yang dikencangkan dengan tali pengikat.
  2. Harus dilengkapi dengan tali pelampung yang dapat dilepas atau alat lain untuk mengamankannya ke jaket pelampung orang lain di dalam air.
  3. Harus dilengkapi dengan sarana untuk memungkinkan penyelamat mengangkat pemakainya dari air ke dalam kapal penyelamat.
  4. Jaket tidak boleh terbakar atau meleleh saat terkena api selama 2 detik.
  5. Saat meloncat dari ketinggian minimal 4,5 m ke dalam air tidak terjadi cedera dan terlepas atau merusak lifejacket.
  6. Harus memiliki daya apung yang tidak berkurang lebih dari 5% setelah 24 jam direndam di air tawar
  7. Harus ada jaket pelampung untuk setiap orang di atas kapal. Plus jaket pelampung untuk setiap anak atau 10% dari jumlah penumpang, mana yang lebih tinggi.
2. Jenis - jenis Lifejacket

    Berdasarkan jenis bahannya, jaket pelampung terdiri dari dua jenis, yaitu ada yang terbuat dari busa (gabus) dan yang menggunakan udara. Masing-masing jenis tersebut memiliki daya apung maksimal, tingkat kekuatan dan batasan-batasan yang berbeda satu sama lain [2].

Gambar 1. Beberapa tipe Lifejacket

Kawanlaut, berikut beberapa tipe lifejacket:

1. Lifejacket Tipe I – tipe yang menggunakan busa.
    Digunakan saat penjelajahan (arung jeram), perlombaan, pemancingan di lepas pantai, saat naik perahu sendirian atau saat badai. Daya apung minimalnya yaitu sekitar 10 Kg (22 lbs.) untuk orang dewasa dan 5 Kg (11 lbs.) untuk anak-anak.
Gambar 2. Lifejacket Tipe 1

2. Lifejacket Tipe II – tipe yang menggunakan busa.
    Digunakan saat menjelajahi pedalaman, memancing dan berlayar. Baik digunakan saat menaiki perahu jenis ringan. Daya apung minimalnya yaitu sekitar 7 Kg (15.5 lbs.) untuk orang dewasa.

Lifejacket Tipe II – tipe yang menggunakan udara.
Digunakan saat menjelajahi daerah sangat pedalaman dan di daerah dekat pantai. Daya apung minimalnya yaitu sekitar 15,5 Kg (34 lbs.) untuk orang dewasa.

Gambar 3. Lifejacket Tipe II


3. Lifejacket Tipe III – tipe yang menggunakan busa.
    Digunakan saat aktivitas yang diawasi seperti pelayaran regatta, balap jeram, ski air, memancing, kano dan kayak. Daya apung minimalnya yaitu sekitar 7 Kg (15.5 lbs.) untuk orang dewasa.

Lifejacket Tipe III – tipe yang menggunakan udara
Digunakan saat berperahu di panta dan dekat pantai. Serta pada saat melakukan kegiatan yang diawasi seperti pelayaran regatta, balap jeram, ski air, memancing, kano dan kayak. Daya apung minimalnya yaitu sekitar 10,2 Kg (22.5 lbs.) untuk orang dewasa.

Gambar 4. Lifejacket III

4. Lifejacket Tipe IV – tipe yang dilempar
    Tipe IV dirancang untuk dilemparkan ke korban yang terapung di laut atau sebagai melengkapi daya apung orang yang berlebihan. Cara penggunaanya tidak dengan dikenakan. Daya apung minimalnya sekitar 7,5 Kg (16.5 lbs.) untuk pelampung berbentuk cincin atau 8 Kg(18 lbs.) untuk pelampung berbentuk bantal kapal.

Gambar 5. Lifejacket Tipe IV


5. Tipe V – jaket pelampung untuk penggunaan khusus
    Terbatas menurut rancangan khusus sesuai dengan peruntukannya seperti sailboard harness, setelan dek, rompi untuk berayun, arung jeram komersil atau mantel pelampung. Daya apung minimalnya sekitar 7 Kg (15.5 lbs.) sampai 10 Kg (22 lbs.) untuk orang dewasa.

Tipe V – tipe udara yang otomatis mengembang
Terbatas menurut rancangan contohnya ikat pinggang, setelan dek atau mantel pelampung. Daya apung minimalnya sekitar 3,5 Kg (7.5 lbs.) untuk yang menggunakan busa dan 10 Kg (22 lbs.) untuk yang menggunakan udara.

3. Peletakan Lifejacket di atas kapal

    Ketentuan jumlah dan Penempatan Lifejacket pada kapal penumpang berdasarkan SOLAS Reg.III/7-2 adalah sebagai berikut:

a. Sebuah Lifejacket harus tersedia untuk setiap orang diatas kapal, dan dengan ketentuan [3]:
  • Untuk kapal penumpang dengan pelayaran kurang dari 24 jam, jumlah lifejacket untuk bayi setidaknya sama dengan 2,5% dari jumlah penumpang
  • Untuk kapal penumpang dengan pelayaran lebih dari 24 jam, jumlah lifejacket untuk bayi harus disediakan untuk setiap bayi di dalam kapal
  • Jumlah lifejacket untuk anak – anak sedikitnya sama dengan 10% dari jumlah penumpang atau boleh lebih banyak sesuai permintaan ketersediaan lifejacket untuk setiap anak
  • Jumlah lifejacket yang cukup harus tersedia untuk orang – orang pada saat akan menuju survival craft. Lifejacket tersedia untuk orang – orang yang berada di bridge deck, ruang control mesin dan tempat awak kapal lainnya.
  • Jika lifejacket yang tersedia untuk orang dewasa tidak di desain untuk berat orang lebih dari 140 kg dan lingkar dada mencapai 1.750 mm, jumlah lifejacket yang cukup harus tersedia di kapal untuk setiap orang tersebut
b. Lifejacket harus ditempatkan pada tempat yang mudah diakses dan dengan penunjuk posisi yang jelas

c. Lifejacket yang digunakan di totally enclosed lifeboat, kecuali free fall lifeboats tidak boleh mengahalangi akses masuk ke dalam lifeboat atau tempat duduk, termasuk pada saat pemasangan sabuk pengaman.

Ketentuan Perencanaan Peletakan Lifejacket berdasarkan SOLAS Reg.III/22 adalah sebagai berikut:
  1. Lifejacket harus diletakkan di tempat yang mudah dilihat , di geladak atau di muster station
  2. Lifejacket penumpang diletakkan diruangan yang terletak langsung diantara area umum dan muster station. Untuk kapal pelayaran lebih dari 24 jam , lifejacket harus diletakkan di area umum, muster station atau diantaranya.
  3. Lifejacket yang digunakan pada kapal penumpang harus tipe lifejacket light
Referensi

[1] "Life Jacket, Jenis dan Fungsinya," [Online]. Available: https://velascoindonesia.com/life-jacket/. [Accessed April 2022].

[2] "Lifejacket/ Personal Floating Device (PFD)," April 2022. [Online]. [Accessed 2022].

[3] "Live Saving Appliances," April 2022. [Online].

 

Kenalan dengan Bahan Insulasi berdasarkan A dan B Class !

Hallo Kawanlaut ! sekarang kita kenalan yuk, dengan apa itu Bahan Insulasi? Insulasi Kelas A terdiri dari bahan seperti kapas, sutra, dan ke...