Sunday, May 29, 2022

Line Throwing Kapal, Apa Sih?

HALLO KAWANLAUT! Kalian tau gak sih kalau ada banyak pihak yang bertanggung jawab akan keselamatan dalam bidang pelayaran kapal, diantaranya perusahaan kapal, regulator pelayanan, penumpang, anak buah kapal, dan sebagainya. Khusus untuk perusahaan kapal dan para awak kapal, mereka memiliki tanggung jawab untuk menyediakan alat keselamatan kapal yang memadai dan anak buah kapal yang berkompeten atau mengetahui hal-hal dalam menggunakan alat-alat keselamatan tersebut. Tentu kita tidak ingin jika naik kapal tetapi tidak memiliki peralatan keselamatan kapal yang memadai bukan? Nah, salah satu alat keselamatan kapal yang perlu kita ketahui dan akan kita bahas pada artikel kali ini adalah Line Throwing Kapal. Apa yang dimaksud dengan Line Throwing serta fungsi Line Throwing? Yuk, simak pembahasan berikut!

1. Apa itu Line Throwing

    Line Throwing atau biasa dikenal juga sebagai roket pelontar tali atau pelempar tali penolong. Fungsi dari Line Throwing adalah sebagai alat pelontar tali penolong atau pelempar tali sebagai penghubung antara kapal yang menolong dengan kapal yang ditolong. Dengan adanya tali tersebut, kedua kapal akan lebih mudah untuk saling mendekat. Selain sebagai penghubung antar kapal, Line Throwing juga dipakai untuk menolong orang atau korban yang terjatuh dari kapal pada saat keadaan darurat. Diharapkan korban dapat meraih tali yang dilemparkan, kemudian ditarik ke kapal penyelamat, atau bisa juga disambungkan ke sekoci yang selanjutnya akan ditarik ke arah kapal penyelamat. 



Contoh ilustrasi Line Throwing sebagai penghubung antar kapal
Sumber : marineinsight.com


Banyak orang bertanya, kenapa tali ini tidak dilempar pakai tangan kosong atau secara manual saja? Karena dengan menggunakan Line Throwing, maka tali dapat dilemparkan dengan jarak yang cukup jauh jika dibandingkan dengan melontarkan secara manual atau dengan menggunakan tangan kosong. Bahkan dengan seorang atlet pelempar jauh sekalipun, jarak lemparan tali dengan menggunakan Line Throwing bisa lebih jauh loh. 

2. Jenis dan Bentuk Line Throwing 

    Line Throwing atau roket pelontar mempunyai bentuk seperti tabung besar, dengan pegangan pada salah satu sisinya. Selayaknya alat keselamatan pada umunya, warna oranye mendominasi alat ini. Di dalam tabung terdapat tali sepanjang ratusan meter berwarna putih, dan sebuah roket kecil panjang yang dikaitkan ke salah satu ujung tali. Pada bagian badan tabung tertulis cara atau petunjuk pemakaian perangkat tersebut. Cara menggunakan perangkat ini cukup mudah, yaitu dengan mengarahkan Line Throwing atau roket pelempar pada titik sasaran, kemudian tarik pelatuk yang berada dibagian pegangan tabung (seperti menembakan senjata atau pistol), begitu pelatuknya ditarik, maka roket akan meluncur dengan membawa tali. Selain berbentuk tabung besar yang telah dijelaskan, ada pula bentuk roket pelempar lainnya, seperti roket bahu atau senjata laras panjang. 


Berbagai Jenis Line Throwing Apparatus
Sumber : berbagai sumber 

3. Cara Menggunakan Line Throwing Apparatus 

    Cara menggunakannya mudah. Pertama, tarik safety pin. Kedua, arahkan Line Throwing ke arah target yang dihendaki. Ketiga, tekan tuas untuk mengaktifkan roket. Dengan demikian, tali akan segera terlempar ke arah target. Setiap merek memiliki spesifikasi dan bentuk Line Throwing yang berbeda-beda, namun pada prinsipnya kurang lebih serupa. Perhatikanlah instruksi pemakaian yang terdapat pada kemasan. 



Ilustrasi cara pengoperasian Line Throwing 
Sumber : velascoindonesia.com


Jauh tidaknya lemparan tali juga dapat dipengaruhi oleh sudut lemparan atau arah lemparan yang tepat, dimana direkomendasikan sudut lemparan adalah 45 derajat terhadap geladak kapal sehingga alat penembak dapat melintas jarak terjauh. Selain itu, dengan mengarahkan alat ke arah angin bergerak dapat meningkatkan area jangkauannya. Jadi tidak asal dilemparkan saja. Lemparan tali yang jauh oleh Line Throwing itu dihasilkan dari mekanisme kerja alat keselamatan ini yang menggunakan bantuan reaksi kimia. Oleh sebab itu, perangkat keselamatan ini digolongkan ke dalam jenis alat piroteknik. 



Ilustrasi Peluncuran Line Throwing
Sumber : marineinsight.com


4. Line Throwing Sesuai Standar SOLAS

    Setiap alat transportasi wajib memiliki alat safety, tidak terkecuali kapal laut. Mengingat telah banyak terjadi kecelakaan kapal laut, maka secara internasional telah disepakati sebuah panduan keamanan yang tertuang dalam SOLAS atau Safety of Life at Sea, dimana SOLAS ini mengatur standar alat keselamatan anak buah kapal. 

Lebih lanjut, International Life Saving Appliance Code (LSA Code) memberikan spesifikasi dan rician tentang standar yang harus diikuti oleh semua peralatan yang dianggap diklasifikasikan sebagai Life Saving Appliances, yakni dengan memberlakukan standar dari Bab 3 SOLAS 1974 - Life-Saving Appliances and Arrangements. SOLAS mencatat semua kriteria alat keselamatan yang harus ada pada setiap kapal, seperti pelampung, jaket pelampung, suar, sekoci, dan salah satunya adalah Line Throwing

Pada Regulasi 7.1.1 Bab 7 dari LSA Code memberikan standar spesifikasi berikut untuk semua peralatan Line Throwing: 
  1. Mempunyai akurasi yang baik ketika dilempar ke titik sasaran. 
  2. Memiliki minimum 4 buah alat penembak (projectiles) yang dapat melempar tali sejauh sekurang-kurangnya 230 meter dalam kondisi cuaca normal. 
  3. Setiap kapal wajib memiliki peralatan Line Throwing setidaknya 4 buah dengan kekuatan tarik minimum 2 kilo Newton (2kN). 
  4. Memiliki instruksi atau petunjuk pemakaian yang tercantum pada badan perangkat secara jelas menggambarkan penggunaan dan pengoperasian peralatan pelempar tali. 
Regulasi 7.1.2 Bab 7 LSA Code menyatakan bahwa Line Throwing harus ditempatkan di dalam tempat yang kedap air. Line Throwing dapat mencakup berupa hanya roket, termasuk roket yang ditembakkan dengan pistol, atau roket dan tali yang menyatu. Selanjutnya dinyatakan bahwa dalam hal roket yang ditembakkan dengan pistol, rakitan roket dan tali harus disimpan dalam tempat bersamaan dengan alat pemantik. Hal ini untuk memungkinkan tindakan cepat apabila terjadi keadaan darurat. Tempat penyimpanan harus terlindung dengan baik dari berbagai jenis cuaca. 

Tujuan dari standar keselamatan ini adalah untuk mencegah terjadinya insiden yang tidak diinginkan. Peralatan pelempar tali memiliki berbagai macam aplikasi, dan perhatian khusus yang harus diberikan untuk memastikan bahwa peralatan tersebut dirawat dan dipelihara secara rutin. 

REFERENSI


[1] https://www.safety-marine.com/2022/05/line-throwing-alat-keselamatan-pada.html (Diakses April 2022)

[2] https://velascoindonesia.com/mengenal-alat-safety-kapal-line-throwing/ (Diakses Mei 2022)

[3] https://velascoindonesia.com/line-throwing-alat-safety/ (Diakses April 2022)

[4] https://marineinsight.com/naval-architecture/what-are-line-throwing-apparatus-on-ships/ (Diakses April 2022)

[5] https://www.facebook.com/lalizas/photos/4921583131202236 (Diakses Mei 2022)

[6] library.poltekpel-sby.ac.id (Diakses Mei 2022)

[7] http://repository.unimar-ammi.ac.id/2427/BAB%202.pdf (Diakses Mei 2022)






Tuesday, May 17, 2022

Mengenal Tentang Pengujian Lifeboat

Hallo KawanLaut!

PENGUJIAN MATERIAL
Uji Ketahanan Material terhadap Api

Peralatan Pengujian 

  • Peralatan uji bakar 
  • Bahan lambung dan kanopi diuji nyala untuk menentukan karakteristik tahan api

Uji Apung Material Sekoci

Memiliki kriteria penerimaan dengan pengurangan daya apung tidak boleh lebih dari 5%, serta spesimen tidak boleh menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
  • Peralatan uji apung
  • Peralatan uji siklus suhu
  • Minyak dengan oktan tinggi
  • Timbangan
  • Alat ukur panjang
Material direndam untuk jangka waktu 14 hari di bawah 100 mm. 

UJI KELEBIHAN MUATAN SEKOCI

Sekoci yang diluncurkan Davit

  • Sekoci yang akan diturunkan diletakkan di atas balok atau digantung dari kait pengangkat.
  • Sekoci juga diberi bobot yang didistribusikan merata. 
  • Bobot diberi beban tambahan 25%, 50%, 75%, dan 100% lebih besar dari berat perlengkapan sekoci (diukur & dicatat), 
  • Bobot kemudian dihapus dan dimensi sekoci diperiksa. 


Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Tidak boleh terjadi defleksi residual yang signifikan
  • Jika sekoci terbuat dari GRP (glass-reinforced polyester), maka pengukuran dilakukan selang waktu yang cukup agar GRP memulihkan bentuk aslinya (kurang-lebih 18 jam)
Sekoci Jatuh Bebas (Free-Fall)

  • Sekoci diberi muatan terdistribusi secara merata dengan massa jumlah orang yang disetujui dan peralatannya. 
  • Sekoci diluncurkan 1,3 kali lebih tinggi dari yang disetujui. Uji dilakukan dengan menjatuhkan sekoci secara vertical
  • Setelah dijatuhkan sekoci diperiksa tingkat kerusakan yang mungkin terjadi.


Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Tidak adanya kerusakan yang mempengaruhi efisiensi sekoci
  • Jika terdapat defleksi pada lambung dan kanopi, dipastikan tidak membahayakan penumpang
Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
  • Davit (dewi-dewi)
  • Alat ukur panjang (penggaris, meteran, dan sebagainya)
  • Timbangan
  • Kolam
UJI BENTURAN DAN UJI JATUH PADA SEKOCI DAVIT

Uji Benturan

  • Sekoci diberi beban sebagai jumlah massa penumpang beserta perlengkapannya. 
  • Beban di distribusikan sebesar 100 kg pada setiap kursi sekoci. 
  • Sekoci dalam posisi tergantung bebas, dan ditarik ke samping dengan kecepatan 3,5 m/s

 
Uji Jatuh

  • Sekoci dilengkapi dengan mesin, dan dimuat beban sesuai jumlah massa penumpang sekoci. 
  • Diberi beban sebesar 100 kg pada setiap kursi sekoci. 
  • Sekoci digantung di atas air dengan jarak titik sekoci terendah ke air yaitu 3 m, 
  • Lalu sekoci dilepaskan jatuh bebas ke air.

Uji Operasional Setelah Uji Benturan dan Uji Jatuh

  • Sekoci diturunkan dan diperiksa untuk melihat posisi dan tingkat kerusakan yang mungkin terjadi, 
  • Dan uji operasional dilakukan sesuai dengan uji pengoperasian mesin dan konsumsi bahan bakar.


Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Sekoci diperiksa apakah ada kerusakan yang mempengaruhi fungsi sekoci
  • Mesin dan peralatan lainnya masih bisa dioperasikan
  • Tidak ada masuknya air laut yang signifikan telah terjadi
Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
  • Beban sebesar 100 kg
  • Fender atau sepatu roda

UJI JATUH BEBAS SEKOCI (FREE-FALL)

Uji Jatuh Bebas (Reqiired) 
  • Sekoci diluncurkan dari ketinggian dimana sekoci tersebut dilemparkan. 
  • Sekoci dimuati penuh (peralatan dan setengah jumlah penumpang yang disetujui).
  • Percepatan gaya diukur dan diakselerasi di tempat yang berbeda. 


Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Kekuatan akselerasi sesuai dengan table batas perpindahan dan batas percepatan
  • Selama peluncuran, lifeboat harus dalam keadaan stabil
Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
  • Stopwatch
  • Alat pengukur jarak
  • Timbangan
UJI KEKUATAN TEMPAT DUDUK SEKOCI

Sekoci yang diluncurkan Davit

  • Sekoci diberi beban sebesar 100 kg pada setiap kursi di sekoci. 
  • Tempat duduk tidak mengalami deformasi atau kerusakan permanen.

Sekoci Jatuh Bebas (Free-Fall)

  • Sekoci diberi beban sebesar 100 kg pada setiap kursi di sekoci. 
  • Tempat duduk dapat mendukung muatan ini selama peluncuran jatuh bebas dari ketinggian 1,3 kali tinggi yang disetujui, tanpa ada yang permanen deformasi atau kerusakan. 
  • Tempat duduk tidak boleh ada deformasi/kerusakan permanen.

UJI RUANG TEMPAT DUDUK LIFEBOAT


  • Sekoci dilengkapi dengan mesin dan perlengkapannya. 
  • Jumlah orang yang disetujui memiliki massa rata-rata 75 kg (sekoci untuk kapal penumpang) atau 82,5 kg (sekoci untuk kapal kargo) dengan mengenakan baju pelampung dan peralatan lainnya.

Kriteria penerimaan terdiri dari :
Sekoci bermanuver untuk melihat bahwa dengan adanya penumpang dan perlengkapan, dapat dioperasikan tanpa adanya gangguan

Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
Beban 75 kg hingga 100 kg

UJI LAMBUNG TIMBUL DAN UJI STABILITAS

Uji Lambung Timbul


  • Sekoci dan mesinnya dimuat dengan setengah dari jumlah orang pada sekoci yang disetujui, duduk di posisi duduk yang tepat satu sisi garis tengah, 
  • Dan lambung timbul diukur pada sisi rendah.

Kriteria penerimaan terdiri dari :
Lambung timbul > 1,5% L sekoci atau 100 mm (mana yang lebih besar)

Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
Meteran

Uji Stabilitas saat Tergenang


  • Sekoci diuji dengan memuat peralatan dan perlengkapan
  • Sekoci yang dilengkapi dengan kompartemen penyimpanan kedap air harus disegel kedap air
  • Ballast dengan berat dan densitas yang setara harus diganti dengan mesin dan peralatan terpasang lainnya yang dapat dirusak oleh air
  • pemberat yang mewakili kursi-kursi penumpang tidak digenangi air
Kriteria penerimaan terdiri dari :
Sekoci memiliki stabilitas positif apabila ketika diisi dengan air tidak mengalami kehilangan daya apung dan tidak ada kerusakan

UJI MEKANISME PELUNCURAN 

Sekoci yang diluncurkan Davit



  • Sekoci dalam kondisi digantung di atas air d
  • Sekoci memuat massa total sebesar jumlah orang yang disetujui dan jumlah perlengkapan. 
  • Sekoci akan diluncurkan tanpa merusak bagian-bagian sekoci 
  • Dan dipastikan bahwa sekoci penolong akan meluncur sepenuhnya di air dalam kondisi ringan dan dalam kondisi kelebihan beban 10%.
Sekoci Jatuh Bebas


  • Peluncuran jatuh bebas dimuat dengan gaya yang sama setidaknya 200% dari beban normal. 
  • Sekoci dimuati oleh jumlah orang yang disetujui. 
UJI OPERASIONAL 

Uji Pengoperasian Mesin dan Konsumsi Bahan Bakar

Mesin dinyalakan dan bermanuver setidaknya selama 4 jam. Kecepatan tidak kurang dari 6 knot (lengkap). 

Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Dalam periode tersebut, dipastikan konsumsi bahan bakar cukup
  • Tangki bahan bakar memiliki kapasitas yang cukup
Uji Start Mesin Kondisi Dingin




  • Untuk pengujian ini, mesin akan dilepas dari sekoci. 
  • Mesin, bahan bakar dan cairan pendingin ditempatkan dalam ruang pada suhu -15 derajat celcius. 
  • Kemudian mesin akan dinyalan 3 kali dengan instruksi 2 kali pertama dinyalakan sampai mencapai suhu ruang, dan yang terakhir dinyalakan hingga 10 menit

Uji Mesin di Luar Air


Kriteria penerimaan terdiri dari :
Mesin tidak boleh mengalami kerusakan

Uji Mesin Terendam Air



Kriteria penerimaan terdiri dari :
Mesin tidak boleh mengalami kerusakan

Kompas


  • Dipastikan kinerja kompas memuaskan 
  • Kinerja kompas tidak dipengaruhi oleh perlengkapan magnetis lainnya yang ada pada sekoci. 
Uji Pemulihan Hidup (Survival Recovery Test)




Dibuktikan dengan menguji/mempraktekkan orang yang tidak berdaya dari laut naik ke sekoci.

UJI DEREK DAN PELUNCURAN TAMBAT

Uji Derek



  • Sekoci dimuat dengan massa yang didistribusikan merata dengan massa jumlah orang yang disetujui. 
  • Sekoci dapat ditarik dengan kecepatan tidak kurang dari 5 knot dalam air yang tenang dan secara merata. 
  • Tidak boleh ada kerusakan sekoci atau perlengkapan setelah pengujian.
Uji Peluncuran Sekoci Davit dengan Tambat


Dapat melepaskan tambat di sekoci yang sedang ditarik dengan v tidak kurang dari 5 knot dalam air tenang.

Uji Lampu Sekoci 


  • Lampu-lampu pada sekoci di uji suhu (lampu kanopi, lampu interior dll). 
  • Mengikuti setidaknya sepuluh siklus suhu lengkap
  • Untuk lampu yang berkedip setidaknya tidak kurang dari 50 kedipan dan tidak lebih dari 70 kedipan per menit.

Uji Penegakan Kanopi 



  • Pengujian hanya dilakukan untuk sekoci yang tertutup sebagian. 
  • Sekoci juga diisi dengan jumlah orang yang disetujui. 
  • Kanopi dapat dengan mudah didirikan oleh tidak lebih dari dua orang.

UJI TAMBAHAN UNTUK SEKOCI YANG TERTUTUP PENUH 

Uji Self-Righting


Sekoci di kondisi tertutup, secara bertahap diputar hingga 180 derajat celcius dan setelah itu sekoci dapat kembali ke posisi semula tanpa bantuan penumpangnya. Pengujian dilakukan dalam kondisi muatan sebagai berikut :
  • Sekoci dan mesinnya dalam kondisi normal
  • Bobot setiap orang diasumsikan dengan massa rata-rata 75 kg
  • Diletakkan di setiap tempat duduk sekoci
Uji Mengembalikan Posisi Ketika Tergenang


  • Sekoci ditempatkan di dalam air dan sepenuhnya terendam, 
  • Sekoci akan diputar sekitar sumbu memanjang ke sudut 180 derajat dan kemudian dilepaskan. 
  • Setelah rilis, sekoci akan mencapai posisi yang menyediakan pelarian di atas air penghuni
  • Massa dan distribusi penumpang diabaikan.
Uji Intervensi Mesin


  • Mesin akan dijalankan dengan kecepatan penuh selama 5 menit. 
  • Mesin lalu dihentikan dan dinyalakan kembali dengan kecepatan penuh selama 10 menit, lalu dinginkan 
  • Nyalakan kembali selama 5 menit. 
  • Putar mesin yang sedang berjalan searah jarum jam 180 derajat, tahan pada posisi 180 derajat selama 10 detik, lalu putar 180 derajat lebih jauh ke arah searah jarum jam untuk 1 putaran. 
  • Jika mesin bisa mati otomatis, nyalakan kembali dengan kecepatan penuh selama 10 menit, lalu matikan dan dinginkan (diulang sekali lagi), 
  • Kemudian bongkar mesin dan mesin siap diperiksa.
Kriteria penerimaan terdiri dari :
Mesin tidak boleh terlalu panas, gagal operasi, atau bocor lebih dari 250 mL minyak selama satu inversi.

UJI PASOKAN UDARA UNTUK SEKOCI DENGAN SISTEM PENDUKUNG UDARA MANDIRI 


  • Semua pintu masuk dan bukaan sekoci ditutup untuk memastikan persediaan udara didalam sekoci. 
  • Mesin dijalankan mencapai kecepatan penuh dengan sekoci terisi penuh dengan orang dalam jangka waktu 5 menit dan berhenti selama 30 detik. 
  • Kemudian mesin dijalankan kembali selama 10 menit dan dipastikan bahwa gas berbahaya tidak dapat masuk.

UJI TAMBAHAN UNTUK SEKOCI YANG TERLINDUNGI DARI API 

Uji Kebakaran

  • Sekoci ditambatkan di tengah area yang tidak kurang dari lima kali luas rencana maksimum yang di proyeksikan dari sekoci
  • Minyak tanah yang cukup mengambang di atas air, ketika dinyalan, api akan benar-benar menyelimuti sekoci dengan periode waktu yang ditentukan
  • mesin dijalankan dengan kecepatan penuh dan disistem pelindung gas dan api akan dioperasikan sepanjang uji kebakaran
  • Api dibiarkan menyala selama 8 menit
  • Selama uji kebakara, suhu diukur dan dicatat
  • Suhu akan di analisa apakah terdapat zat/gas beracun yang masuk ke dalam sekoci
  • Di akhir pengujian, sekoci di cek dan dilihat apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak

Uji Semprotan Air



Mesin dan pompa semprot dinyalakan. Air disemprotkan menutupi seluruh permukaan sekoci.


MENGUKUR DAN MENGEVALUASI KEKUATAN AKSELERASI 



Penempatan, dan Pemasangan Akselerometer

  • Accelerometer ditempatkan di sekoci (interior kaku) dengan getaran yang minim.
  • Accelerometer memiliki respons frekuensi setidaknya dalam kisaran 0 sampai 200 Hz
  • Memiliki akurasi kurang lebih 5 %
Metode dan Tingkat Perekaman
  • Gaya akselerasi direkam oleh sinyal digital atau plot kertas percepatan sinyal.
  • kekuatan akselerasi memiliki laju sampling setidaknya 500 sampel per detik



Thursday, May 5, 2022

Perawatan Lifeboat Itu Gimana Sih?

Hallo Kawanlaut! Perawatan Lifeboat dilakukan dalam rangka pemeliharaan rutin. Alat kontrol dan mesin yang diperiksa untuk memastikan apakah sesuai dengan keadaan awal berfungsi guna menjaga keadaan mesin dan mencegah timbulnya kerusakan mesin. 

Kegiatan perawatan berdasarkan pada perencanaan oleh pihak pemilik kapal memastikan keadaan kapal yang baik dan meminimalisir resiko kondisi yang menimbulkan tidak terpenuhinya keselamatan atas jiwa dan kapal. Untuk itu diperlukan pemeriksaan dan perawatan secara teratur agar peralatan pada Lifeboat dapat berfungsi dengan optimal. 

Mesin Lifeboat yakni mesin yang berfungsi mengoperasikan Lifeboat sehingga apabila kondisi tertentu Lifeboat harus digunakan maka Lifeboat dapat dioperasikan dengan segera pada setiap kondisi. 

Bagian mesin Lifeboat yang diwajiibkan untuk diperiksa dan dirawat agar berfungsi secara optimal, yaitu : 

  1. Accu
    Agar dapat mengetahui masih berfungsinya Accu dengan baik, dilakukan pemeriksaan dengan menyalakan mesin pada Lifeboat
  2. Radiator
    Mesin Lifeboat menggunakan radiator yakni menggunakan mekanisme dengan memindahkan energi panas dari satu elemen ke elemen lainnya yang tujuannya untuk mendinginkan. 
  3. Oli atau minyak pelumas
    Berfungsi agar mesin beroperasi secara halus dan berfungsi sebagai pendingin dan penyekat. Oli berfungsi mencegah terjadinya gesekan logam dengan logam atas komponen pada mesin serta mencegah timbulnya goresan pada bagian mesin. Pemeriksaan volume dan kualitas minyak pelumas sangat diperlukan jika terlalu lama tidak diganti akan berdampak kerusakan pada mesin. 
  4. Bahan Bakar
    Pemeriksaan tangki bahan bakar berguna untuk memastikan tangki terisi penuh sesuai dengan batas ketentuan. 
Pada saat akan melakukan start mesin perlu dilakukan pemeriksaan oli mesin pada Lifeboat, pemeriksaan level minyak bahan bakar terhadap tangki mesin, pemeriksaan Oil Steering, pemeriksaan kondisi accu/battery, pemeriksaan kemudi. 

Perawatan yang dilakukan untuk Lifeboat diantaranya : 
  1. Setiap Minggu
    Melakukan pemeliharaan alat penggerak, pemeriksaan kondisi accu/battery.
  2. Tiap 3 Bulan
    Melakukan pemeliharaan pembersihan filter, pemeriksaan kebocoran pada system exhaust manifold. 
  3. Tiap 6 Bulan
    Melakukan pemeliharaan dan pemeriksaan atas oil mesin dan gear box, pemeriksaan kondisi propeller, pipa-pipa dan baut-baut fondasi. 
  4. 30 Bulan 
    Open Up Survey, pemeriksaan cylinder head dan bagian-bagian utamanya, piston dan bagian-bagiannya, pemeriksaan kondisi main bearing dan crank pin bearing, cylinder liner, gear box, ring piston,  pemeriksaan kondisi propeller, pipa-pipa dan baut fondasi. 


Thursday, April 21, 2022

Apa itu Marine Evacuation System (MES)?

Halo KawanLaut ! Marine Evacuation System (MES) adalah peralatan evakuasi yang sangat unik yang memungkinkan orang-orang di kapal masuk ke rakit penolong pada keadaan darurat/emergency saat terjadi kecelakaan di laut. Keuntungan menggunakan MES di kapal adalah bahwa penumpang atau ABK meluncur ke rakit penolong ILR tanpa khawatir tercebut ke laut dan dapat dengan cepat mengevakuasi yang menentukan kondisi antara hidup dan mati. Tujuan dipasangnya MES diatas kapal adalah untuk dapat mengevakuasi penumpang dari kapal sebanyak mungkin dengan waktu yang sesingkat mungkin.
    MES adalah perangkat penyelamat yang ditemukan di banyak kapal penumpang modern yang terdiri dari seluncuran/perosotan kembung atau escape chute di mana penumpang/ABK dapat dievakuasi langsung ke rakit penolong ILR. MES awalnya dikembangkan pada tahun 1979 oleh RFD, sebuah perusahaan yang berbasis di Selandia Baru untuk menggantikan rakit penolong ILR tradisional yang diluncurkan davit yang digunakan di kapal.
    MES banyak digunakan di kapal pesiar dan jenis kapal penumpang lainnya. seperti pada feri/kapal penyeberangan dan kapal pesiar konvensional sekarang memasang MES untuk melengkapi sistem evakuasi di atas kapal sesuai dengan standar Safety of Life at Sea (SOLAS).

Jenis-jenis MES yang umum digunakan di dunia pelayaran adalah sebagai berikut:

1. Sistem Chute (Dual dan Mini)
Sistem Chute (Single- atau Dual-) adalah yang paling umum ditemukan di kapal pesiar modern yang besar, sistem ini memberikan evakuasi yang cepat dan mudah dan membutuhkan ruang yang kecil saat disimpan di kapal dan ideal untuk kapal penumpang dengan geladak akomodasi yang tinggi dan menyediakan cepat dan evakuasi mudah bahkan untuk kapal terbesar.
Sedangkan sistem Mini Chute sangat ringan dan compact dirancang khusus untuk kapal dengan ketinggian deck embarkasi rendah.



2. Sistem Slide dan Mini Slide
Evakuasi Sistem slide/perosotan menyediakan evakuasi cepat untuk kapal besar dan dapat dipasang pada posisi di paling depan ataupun paling belakang kapal.

Sedangkan sistem Mini Slide dirancang khusus untuk kapal dengan ketinggian dek embarkasi yang lebih rendah dalam berbagai versi agar sesuai dengan sebagian besar feri dan super yacht.














Friday, April 8, 2022

Apa itu Lifeboat?

Hallo Kawan Laut! Bagi kalian pecinta film, pasti sudah pernah dong nonton film berjudul "Titanic" kan? Film yang bercerita tentang kecelakaan kapal Titanic pada 14-15 April 1912 silam yang memakan korban jiwa yang begitu banyak dan menorehkan luka bagi banyak orang. Tidak heran apabila kejadian tersebut adalah salah satu peristiwa yang paling diingat sepanjang sejarah. Film Titanic menggambarkan keputusasaan para penumpang yang tidak dapat melakukan apa-apa. Greget, sedih dan marah bercampur aduk menjadi satu! Apalagi pada suatu scene yang menggambarkan kegaduhan setelah kapal menabrak bongkahan es dan penumpang diinstruksikan untuk melakukan evakuasi. Ga kebayang kan bagaimana rasanya berebut untuk menaiki Lifeboat? Nah, sebetulnya Lifeboat itu apa sih? Bagaimana sejarahnya? Yuk cari tahu!

    Lifeboat sebetulnya telah ada sejak abad ke-18, tepatnya pada tahun 1785-1786, di mana Lionel Lukin berhasil mematenkan desain Lifeboat yang tidak dapat tenggelam untuk pertama kalinya. Pada tahun 1970, Henry Francis Greathead mengikuti sayembara desain Lifeboat bersama William Wouldhave. Namun, para juri tidak puas dengan hasil desain dari kedua kontestan. Oleh karena itu, Henry Francis Greathead diminta untuk membangun Lifeboat berdasarkan gabungkan masing-masing desain dari kedua konstentan. Kejadian ini yang kemudian membuat Henry Greathead dikenal sebagai penemu Lifeboat.

    Namun pada waktu itu, desain Lifeboat masih berupa perahu terbuka. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu masalah dalam kecelakaan kapal RMS Titanic, dimana sekitar 1.500 orang meninggal dunia atau hampir 70% dari total penumpang (2.200 orang). Desain Lifeboat yang terbuka mengakibatkan kurangnya perlindungan terhadap cuaca yang dingin, sehingga beberapa korban karamnya kapal Titanic meninggal dunia akibat hipotermia bahkan setelah berhasil menaiki Lifeboat. Selain itu, kurangnya jumlah Lifeboat juga berkontribusi terhadap banyaknya korban jiwa yang tidak berhasil diselamatkan pada kecelakaan kapal Titanic. 

    Kejadian ini merupakan cikal bakal diselenggarakannya International Safety of Live at Sea (SOLAS) Convention untuk pertama kalinya di London pada tahun 1913 dan diterapkan pada 1914. Pada konferensi perdana tersebut, salah satu persyaratan yang pada akhirnya diberlakukan peraturan mengenai kapasitas Lifeboat. Kemudian, seiring berjalannya waktu, persyaratan terhadap Lifeboat semakin berkembang, di antaranya mengenai jenis-jenis Lifeboat dan penempatannya di sekitar kapal. 



Gambar 1. Salah satu penyebab banyaknya korban jiwa akibat kecelakaan RMS Titanic pada 1912 silam. 

Setelah mengetahui pentingnya Lifeboat, mari kita pelajari serba-serbi tentang Lifeboat lebih lanjut!

1. Pengenalan Fungsi Lifeboat

Lifeboat adalah salah satu dari survival craft atau, yaitu kapal keselamatan yang mampu mempertahankan kehidupan / menyelamatkan penumpang kapal dalam keadaan darurat yang mengharuskan untuk meninggalkan kapal. Untuk dapat memenuhi fungsi dari Lifeboat itu sendiri, maka pada umumnya, Lifeboat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  1. Dapat menampung hingga kurang dari 150 orang! Sesuai dengan Life Saving Appliances (LSA) Code, Chapter 3, Reg. 4.4.2.1. Karena kapasitasnya yang cukup besar, Lifeboat dengan kapasitas mencapai 150 orang pada umunya digunakan pada kapal pesiar (cruise ships). Penempatan kursi dalam Lifeboat harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat dipastikan bahwa Lifeboat mampu menampung penumpang sesuai kapasitas maksimalnya. Pada Gambar 2, dapat dilihat susunan kursi di dalam Lifeboat berkapasitas 150 orang dengan panjang keseluruhan mencapai 9.6 m dan lebar 4.6 m. Selain itu, perlu diingat bahwa setiap penumpang yang memasuki Lifeboat harus menggunakan Life Jacket sebagaimana terlihat pada Gambar 3.


    Gambar 2. Penempatan penumpang dalam Lifeboat



    (a)
    Gambar 3. Simulasi Lifeboat embarkation pada Lifeboat berkapasitas 150 penumpang (a). 



    (b)
    Gambar 3. Simulasi Lifeboat embarkation pada Lifeboat berkapasitas 150 penumpang setelah terisi penuh. 

  2. Ditandai dengan nama kapal dan pelabuhan di mana kapal tersebut didaftarkan, di bagian kanan dan kiri Lifeboat untuk keperluan identifikasi, sebagaimana dijelaskan pada LSA Code Chapter 3.4.4.9 tentang Lifeboat markings. Selain itu, ditambahkan juga kapasitas penumpang serta ukuran dimensi Lifeboat. Tanda atau mark pada Lifeboat harus dapat dilihat dengan jelas dari atas, untuk memudahkan pencarian dengan bantuan helikopter. Mark tersebut juga memudahkan proses pendataan dan identifikasi penumpang yang berhasil menyelamatkan diri menggunakan Lifeboat. Penulisan mark pada Lifeboat dapat dilihat pada Gambar 4. Berdasarkan kode LSA dan SOLAS, Lifeboat harus dicat dengan warna oranye terang yang diakui secara Internasional. 



    Gambar 4. Mark pada Lifeboat kapal Maersk Alabama 

  3. Dilengkapi dengan makanan, air, P3K, obat-obatan, bahan bakar, sinyal marabahaya, APAR, dsb berdasarkan LSA Code Chapter 3.4.49 Lifeboat Equipment. Lifeboat dapat juga dilengkapi dengan peralatan kemudi, seperti dayung hingga mesin propulsi. Perlengkapan tersebut diharapkan dapat menunjang kehidupan penumpang selama kurang lebih 10 hari sebelum ditemukan dan diselamatkan oleh Tim SAR. Beberapa peralatan yang dimaksud sebagaimana dilihat pada Gambar 5. 



    Gambar 5. Peralatan yang wajib dimiliki oleh Lifeboat


    Gambar 6. Detail bagian-bagian dari Lifeboat



    Gambar 6. Detail bagian-bagian dari Lifeboat
2. Jenis-Jenis Lifeboat
Untuk memenuhi kebutuhan Lifeboat dikembangkan menjadi beberapa jenis di antara lain :

1. Partially enclosed Lifeboats
a. Hanya digunakan untuk kapal penumpang;
b. Dilengkapi dengan penutup kaku yang terpasang secara permanen dan kanopi yang menutupi penumpang secara menyeluruh dan melindungi mereka dari paparan cuaca (weathertight);
c. Dioperasikan menggunakan davit;
d. Dilengkapi dengan pintu masuk dari kedua sisi.


Gambar 7. Partially enclosed lifeboat
        
2. Totally enclosed Lifeboats 
a. Digunakan untuk semua jenis kapal kecuali kapal penumpang
b. Dapat dioperasikan menggunakan davit atau menggunakan freefall
c. Ketika akses masuk (hach) ditutupm Lifeboat bersifat watertight, yaitu dapat melindungi penumpang secara menyeluruh dari masuknya air laut ke dalam Lifeboat.


Gambar 8. Totally enclosed lifeboat

3. Davit-operated lifeboats
a. Dipasang pada sisi kanan (starboard) dan sisi kiri (portside) kapal
b. Masing-masing Lifeboat yang terpasang dapat mengakomodasi penumpang yang berada di atas kapal
c. Salah satu dari davit-operating lifeboat dapat digunakan sebagai man-over-board (MOB) atau rescue boat apabila memenuhi persyaratan.



Gambar 9. Davit-operated Lifeboat

4. Freefall Lifeboats
a. Merupakan tipe totally enclosed lifeboat, atau tertutup secara penuh
b. Mampu mengakomodasi penumpang yang berada di atas kapal
c. Tidak digunakan sebagai perahu MOB, sehingga membutuhkan perahu MOB secara terpisah.
d. Pengujian dan perawatan freefall lifeboat dioperasikan menggunakan recovery crane.



Gambar 10. Free-fall Lifeboats 

3. Peletakan Lifeboat di atas Kapal
Penempatan Lifeboat di atas kapal adalah hal yang krusial dalam meningkatkan kesempatan bagi para penumpang untuk menyelamatkan diri. Oleh karena itu, Lifeboat tidak boleh ditempatkan secara sembarangan. Adapun peraturan mengenai tempat penyimpanan Lifeboat telah disusun sedemikian rupa dalam Internasional SOLAS Convention dan LSA Code berdasarkan tipe kapal di mana Lifeboat tersebut ditempatkan.

1. Passenger Ships and Cargo Ships (SOLAS Reg. III/13)
Secara garis besar, Lifeboat pada umumnya harus memenuhi :
a. Ditempatkan di tempat yang tidak mengganggu pengoperasian survival craft lainnya di sekitar launching station;
b. Ditempatkan sedekat mungkin dengan permukaan air secara aman dan mudah dioperasikan;
c. Ditempatkan di masing-masing sisi kanan (starboard) dan sisi kiri (port side) kapal;
d. Lifeboat yang diturunkan dari samping kapal harus ditempatkan sejauh mungkin di depan propeller dan area lambung kapal dengan sudut yang tajam, sehingga dapat diturunkan secara langsung dari sisi kapal;
e. Jika ditempatkan di bagian depan kapal, maka harus berada di belakang collision bulkhead dan di tempat yang terlindungi;
f. Davit launched lifeboat harus ditempatkan di dekat kait pengangkat (lifting hooks);
g. Pada kapal kargo 80 m L < 120 m, setiap Lifeboat harus disimpan sedemikian rupa sehingga ujungnya tidak kurang dari jarak Lifeboat dari propeller kapal;
h. Pada kapal barang L  120 m dan kapal penumpang L > 80 m, setiap Lifeboat harus disimpan sedemikian rupa sehingga ujungnya tidak kurang dari 1,5 kali jarak Lifeboat dari propeller kapal.

2. Passenger Ships (Additional Requirements): SOLAS Reg. III/21
a. Untuk kapal penumpang dengan jarak tempuh Internasional yang jauh, harus membawa partially atau totally enclosed lifeboats yang mampu menampung tidak kurang dari 50% jumlah penumpang;
b. Kapal penumpang dengan jarak tempuh Internasional yang tidak terlalu jauh harus membawa partially atau totally enclosed lifeboats yang mampu menampung setidaknya 30% dari total penumpang kapal.

3. Cargo Ships (Additional Requirements): SOLAS Reg. III/31
a. Satu atau lebih dari enclosed lifeboats harus ditempatkan di masing-masing sisi kanan dan kiri kapal yang dapat mengakomodasi seluruh penumpang kapal; atau
b. Kapal kargo diperbolehkan membawa satu atau lebih free-fall lifeboats yang dapat diluncurkan dari bagian belakang kapal (stern) kapal dengan kapasitas yang sama.

4. Kesimpulan
Lifeboat yang berfungsi sebagai penyokong atau penopang kehidupan penumpang ketika harus meninggalkan kapal yang dalam keadaan berbahaya, telah ada sejak abad ke-18. Penggunaan Lifeboat menjadi signifikan setelah terjadinya kecelakaan RMS Titanic yang menewaskan hampir 70% dari total penumpangnya. Hal ini yang melatarbelakangi berdirinya Internasional SOLAS Convention, yang berfokus pada penetapan peraturan dan standar mengenai perlengkapan kapal guna meningkatkan keselamatan penumpang dan kru kapal. Seiring berkembangnya teknologi, Lifeboat mengalami perkembangan menjadi beberapa tipe seperti partially enclosed lifeboats, totally enclosed lifeboats, davit-operated lifeboats dan free-fall lifeboats. Di mana pengaplikasian dan perawatan lifeboat tersebut diatur dalam SOLAS Convention dan kemudian LSA Code, berdasarkan kebutuhan sesuai dengan tipe kapal di mana Lifeboat tersebut digunakan. Sehingga, memahami segala aspek keselamatan terkait Lifeboat adalah hal yang penting.

Nah kawanLaut, sekian penjelasan terkait Lifeboat yang digunakan pada kapal. Semoga melalui penjelasan singkat ini dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan meningkatkan wawasan KawanLaut terkait alat keselamatan pelayaran lebih lanjut! Nantikan artikel selanjutnya ya!

Acknowledgement
Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada Ketua Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran dan tentunya KawanLaut atas kesempatan untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan menulis tentang alat keselamatan pelayaran melalui artikel ini. Kritik dan saran yang membangun dapat disampaikan secara personal kepada Penulis.

Referensi

[1]     "1785: The first lifeboats, "The Royal National Lifeboat Institution, [Online]. Available : https://rnli.org/about-us/our-history/timeline/1785-the-first-lifeboats. [Accessed March 2022].

[2]     "Lifeboat Embarkation,"Royal Institute of Naval Architecture, [Online]. Available: https://www.rina.org.uk/cgi-bin/showpage.fcgi. [Accessed 03 2022].

[3]      A. Baillie, "Loading 150 Persons in a Lifeboat on a Cruise Ship, "Youtube, 20 February 2017. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=TWwfbBf4t7U. [Accessed March 2022]/

[4]      "Lifeboat (Freefall & Fully Closed): An Ultimate Guide - Marine Engineering," Sailor's Life Born to Travel, 1 August 2021. [Online]. Available : https://sailorslife.in/lifeboat-freefall-fully-closed-an-ultimate-guide-marine-engineering/. [Accessed March 2022].

[5]      H.A. Kurniawati, Statutory Regulations, Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), 2016.

[6]     "Lifeboats Video (4K), "Travel Tourist Video, 20 August 2018. [Online]. Available : https://www.youtube.com/watch?v=7zehKME_MfE. [Accessed March 2022].

[7]      "Lifeboat and Launching Appliances, "NaviSage, Global Safety Services, [Online]. Available: http://navisafe.be/lifeboat-and-launching-appliances/. [Accessed March 2022].

[8]      R. Jassal, "Are You doing All These Checks on Your Davit Type Lifeboats." MySeaTime, 18 August 2016. [Online]. Available : https://www.myseatime.com/blog/detail/are-you-doing-all-these-checks-on-your-davit-type-lifeboats. [Accessed March 2022].

[9]      "What are The Requirements of Free-Fall Lifeboats as per SOLAS?, "Marine Gyaan, [Online]. Available : https://marinegyaan.com/what-are-the-requirements-of-free-fall-lifeboat-as-per-solas/. [Accessed March 2022].






Kenalan dengan Bahan Insulasi berdasarkan A dan B Class !

Hallo Kawanlaut ! sekarang kita kenalan yuk, dengan apa itu Bahan Insulasi? Insulasi Kelas A terdiri dari bahan seperti kapas, sutra, dan ke...