Friday, June 10, 2022

Makanan dan Minuman di Dalam Survival Craft, Apakah Ada?

Halo Kawan Laut masih ingat tidak dengan survival craft yang dipakai untuk menyelamatkan penumpang kapal pada saat kondisi darurat dan harus meninggalkan kapal? Ya, survival craft tersebut adalah Lifeboat dan Liferaft. Sebelumnya artikel kita ada yang membahas mengenai Liferaft dan Lifeboat. Kawan Laut masih ingat tidak apa saja peralatan yang tersedia pada alat keselamatan tersebut? Yup.. Di dalam Lifeboat dan Liferaft tersedia peralatan survival kit sebagai peralatan untuk bertahan hidup di tengah laut dalam keadaan darurat hingga tim penyelamat datang untuk menolong. Nah dalam survival kit tersebut ada yang menjadi kebutuhan terpenting untuk bertahan hidup yaitu makanan dan minuman darurat. Sekarang mari kita ulas bersama yuk mengenai makanan dan minuman darurat. 


Gambar 1. Survival Kit

1. Makanan Darurat 

    Makanan menjadi salah satu kebutuhan terpenting dalam kondisi untuk bertahan hidup. Maka dari itu, makanan menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan dalam kondisi darurat dan harus selalu tersedia di Liferaft dan Lifeboat. Makanan darurat pada Liferaft dan Lifeboat ini harus memenuhi persyaratan yang sudah diatur oleh IMO Live-Saving Appliances (LSA) Code. 

Kuantitas makanan darurat yang tersedia harus sesuai dengan kapasitas orang yang ada dalam Liferaft dan Lifeboat. Masing-masing orang mendapatkan 1 ransum makanan dengan kalori yang sesuai dengan kebutuhan. Setidaknya dalam 1 ransum makanan terdiri dari 10.000 kJ atau kalau di konversi kedalam kalori sama dengan 2.400 kcal. Untuk kandungan gizi yang terdiri dalam makanan ini harus sesuai dengan persyaratan yang telah disetujui. Berikut adalah tabel kandungan gizi pada 1 ransum makanan. 

Kandungan Gizi : 

Jumlah Ransum            500 g - 550 g 

Energi                            : min. 10.000 kJ (2.400 kcal) 

Kelembaban                   : max 3% - 7% 

Garam : max. 0,2% 

Karbohidrat : 60% - 70% Berat = 50% - 60% Energi 

Lemak : 18% - 23% Berat = 33% - 43% Energi 

Protein : 6% - 10% Berat = 5% -8% Energi 


Gambar 2. Makanan darurat dengan kemasan kaleng 



Gambar 3. Makanan Darurat dengan kemasan fleksibel 

 
Ransum makanan dapat dikemas dengan kaleng ataupun dengan kemasan plastik (flexible package). Jika menggunakan kemasan plastik, setidaknya harus dilaminasi terlebih dahulu dengan setidaknya 1 lapis aluminium foil. Kemasan makanan darurat harus mudah untuk dibuka dan berbentuk siap untuk dibagi-bagi. Tahan air dan kedap udara. 

Makanan dan kemasan makanan darurat ini sebelumnya harus diuji dan harus mendapat sertifikat lulus uji dari pihak yang mendapatkan wewenang untuk menguji ransum makanan dan kemasannya. Setelah ini, kita bahas bersama untuk pengujian ransum makanan dan kemasannya. 

2. Minuman Darurat 

    Minuman juga hal yang tidak kalah penting untuk tubuh kita. Oleh karena itu, minuman darurat tidak boleh terlewatkan untuk tersedia di dalam Liferaft dan Lifeboat. Untuk kuantitas dari air minum darurat ini sudah teregulasi oleh International Maritime Organization (IMO) Life Saving Appliances (LSA) Code Air minum yang ada di Liferaft dan Lifeboat disediakan sesuai dengan kapasitas orang pada Liferaft dan Lifeboat. 

  • Untuk air minum yang tersedia pada Liferaft, yaitu 1,5 liter untuk setiap orang. 
  • Sedangkan pada Lifeboat, yaitu 3 liter untuk setiap orangnya. 

    Kawanlaut, ternyata di dalam IMO LSA Code ada mengatur mengenai penyediaan alat untuk mengubah air laut menjadi air tawar yang siap untuk diminum loh. Air minum yang tersedia pada Liferaft dan Lideboat dan yang telah diatur oleh IMO LSA Code, sebagiannya dapat digantikan dengan peralatan de-salting atau dengan Manually Powered Reverse Osmosis Desalinator yang dapat menghasilkan jumlah air minum yang sama dengan jumlah air yang tersedia dalam 2 hari. 

    Jika ingin menyediakan peralatan de-salting dapat menggantikan 1/3 air minum yang tersedia (0.5 liter pada liferaft atau 1 liter pada lifeboat). Sedangkan jika ingin menyediakan Manually Powered Reverse Osmosis Desalinator dapat menggantikan 2/3 air minum yang tersedia (1 liter pada liferaft atau 2 liter pada lifeboat). Kawan laut tahu tidak apa itu peralatan de-salting dan Manually Powered Reverse Osmosis Desalinator?


Gambar 4. Manually Powered Reverse Osmosis Desalinator 

    
Peralatan de-salting dan Manually Powered Reverse Osmosis Desalinator adalah peralatan untuk menghilangkan kadar garam yang berlebih pada air menjadi air yang dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Apa sih perbedaan peralatan de-salting dengan Manually Powered Reverse Osmosis Desalinator? Peralatan de-salting menggunakan bahan kimia untuk menghilangkan kadar garam yang terkandung pada air laut. Sedangkan Manually Powered Reverse Osmosis Desalinator adalah peralatan yang dioperasikan secara manual untuk menggerakan air laut dengan diberikan tekanan tinggi ke air dengan konsentrasi rendah yang melewati membran semipermeable. Untuk Manually Powered Reverse Osmosis Desalinator ini harus memenuhi performa standard dan uji performa yang telah diatur pada IMO MSC Circular 1048.

Gambar 5. Peralatan de-salting

Air minum darurat ini harus memenuhi persyaratan Internasional untuk kandungan kimia dan mikrobiologinya. Sehingga dibutuhkannya type approval atau pengujian untuk kandungan air minum darurat ini. Selain kandungan pada air minum, kemasan air minum juga harus di type approval loh Kawanlaut. Untuk pengujiannya akan dibahas pada bagian selanjutnya. Sekarang kita bahas dulu yuk mengenai syarat-syarat untuk kemasan air minum darurat ini.


Gambar 6. Air minum darurat kemasan kaleng



Gambar 7. Air minum darurat kemasan fleksibel

Kemasan air minum darurat dapat dikemas menjadi bagian-bagian kecil yang dikemas secara terpisah. Kemasan air minum darurat harus kedap air yang tersegel dengan bahan yang tahan korosi atau bahan yang di treat untuk tahan korosi. Umumnya dengan kemasan fleksibel yang berupa kontruksi laminasi termasuk setidaknya 1 lapis aluminium foil. Setiap kemasan di beri label, minimal dengan informasi tanggal pengepakan, nomor lot, jumlah kandungan yang terkandung dalam air, dan petunjuk penggunaannya. 

3. Pengujian pada Makanan dan Minuman Darurat

   Seperti yang sudah disebutkan diatas, kandungan makanan dan minuman darurat serta kemasannya perlu dilakukan type approval. Untuk pengujiannya melalui beberapa tahap seperti yang telah diatur di dalam ISO 18813:2006.

1)      Uji Komposisi Makanan

Pada uji ini, tim penguji menganalisis untuk ransum makanan. Untuk setiap ransum makanan, komposisi makanan harus sesuai dengan yang telah disyaratkan, yaitu :

Kandungan Gizi:

Jumlah Ransum          : 500 g – 550 g

Energi                          : min. 10.000 kJ (2.400 kcal) 

Kelembaban                : max 3% - 7%

Garam                         : max. 0.2%

Karbohidrat                  : 60% - 70% Berat      = 50% - 60% Energi

Lemak                          : 18% - 23% Berat      = 33% - 43% Energi

Protein                         : 6% - 10% Berat        = 5% - 8% Energi 

2)      Uji Volume Minuman

Pengujian ini dimaksudkan untuk memverifikasi apakah volume yang tertera pada label kemasan sesuai atau tidak sesuai.

3)      Uji Suhu Rendah dan Tinggi pada Kemasan

Pada setiap uji kemasan memerlukan 2 (dua) sampel kemasan yang terisi dan 2 (dua) kemasan kosong yang disiapkan dan tersegel dengan cara yang sama. Pada uji ini, kemasan akan diletakkan pada chamber yang dapat diatur untuk suhunya. Kemasan pada chamber akan diberikan suhu rendah yaitu -30°C selama 24 jam, lalu dilanjutkan pada suhu tinggi yaitu 65°C selama 24 jam.

Pada tes ini tidak diperbolehkan ada terlihat nyata kerusakan pada kemasan, lapisan pelindung, penyegelan, atau tanda yang diperlukan pada kemasan. 

4)      Uji Kebocoran pada Kemasan

        Pada uji kebocoran, 2 (dua) sampel kemasan yang akan diuji adalah sampel kemasan kosong yang telah melalui uji suhu rendah dan tinggi, Selanjutnya sampel akan diuji untuk kebocoran dengan prosedur pengujian sebagai berikut. 

      • Kemasan kaleng : Kemasan akan direndam pada air mendidih selama 10 menit. Setelah itu, panas akan berpindah ke kemasan dan kemasan diperiksa pada posisi tetap terendam oleh air. Pada uji ini, tidak boleh adanya gelembung. Jika terlihat adanya gelembung, hal ini menjadi indikasi adanya kebocoran pada kemasan.
      • Kemasan fleksibel : Pada uji ini, kemasan hanya diremas oleh tangan. Kemasan tidak boleh meledak dan tidak terbukti adanya kebocoran. 

5)      Uji Perendaman Air (Water Immersion Test) pada Kemasan

Pada 2 (dua) sampel yang terisi dan telah melalui uji suhu rendah dan tinggi, selanjutnya akan di lanjutkan dengan pengujian perendaman air. Sampel akan direndam oleh air dengan salitasi yang mendekati air laut selama 24 jam. Setelah itu, sampel akan diperiksa apakah ada kerusakan secara nyata pada kemasan, tanda yang diperlukan pada kemasan, atau penyegalan pada kemasan.

6)      Uji Ketahanan (Durability Test) pada Kemasan

Pada uji ketahanan ini memerlukan 2 (dua) sampel terisi yang telah melalui uji perendaman air. Dua sampel terisi diletakkan pada kotak kubik dengan ukuran 450 mm disetiap sisinya yang dapat berputar searah jarum jam terhadap sumbu rotasi. Pada uji ini, kotak akan di putar searah jarum jam dengan kecepatan 10 putaran per menit dengan total 100 putaran.


Gambar 8. Peralatan Durability Test

Selanjutnya, kemasan harus dibuka dan memeriksa isinya. Segel kemasan dan isi tidak boleh ada kerusakan.

7)      Uji Korosi pada Kemasan

Pada uji korosi ini memerlukan 2 (dua) sampel kemasan terisi yang telah melalui uji ketahanan dan 2 (dua)  sampel kemasan terisi lain yang sudah melalui uji suhu rendah dan tinggi, uji perendaman air, dan uji ketahanan. Sampel-sampel tersebut disemprotkan dengan air garam (5%SCl) pada suhu 35°C±3 selama 100 jam.

Selanjutnya melakukan pemeriksaan pada segel kemasan dan isinya. Segel kemasan serta isinya tidak boleh terjadi kerusakan. Tanda korosi yang ada pada 2 (dua) sampel kemasan terisi sebelumnya tidak boleh melebihi banyaknya korosi pada 2 (dua) sampel terisi yang baru.

8)      Uji Jatuh pada Kemasan

Uji jatuh  memerlukan 2 (dua) sampel kemasan terisi. Sampel ini dijatuhkan pada ketinggian 3 m. Pada sampel pertama harus jatuh pada permukaan ujungnya dan untuk sampel yang lain harus jatuh pada permukaan sisinya. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada kemasan. Tidak boleh adanya kerusakan pada segel kemasan.

4.     Perawatan dan Inspeksi Periodik

1)      Makanan Darurat

Makanan darurat harus diganti jika telah melewati tanggal kadaluwarsanya. Jika pada kemasan tidak tertera tanggal kedaluwarsa, maka harus diganti jika telah berusia melebihi 5 (lima) tahun. Selain melihat dari tanggal kedaluwarsa, juga harus dilakukan inspeksi terhadap kemasan makanan.

Pada makanan darurat yang dikemas menggunakan kaleng dapat diperiksa dengan melalui pemeriksaan visual terhadap kondisi kemasan. Sedangkan makanan darurat yang dikemas menggunakan kemasan fleksibel dapat dilihat apakah terjadi kelonggaran pada kemasan atau tidak. Karena kemasan fleksibel menggunakan bahan yand dikompresi ketat dengan isinya, maka jika terjadi kelonggaran pada kemasan mengindikasikan terjadinya kehilangan segel. Jika terjadi hal tersebut, paket makanan darurat perlu diganti.

2)      Air Minum Darurat

Untuk air minum darurat sama halnya dengan makanan darurat. Jika air minum darurat telah melewati tangal kedaluwarsa, maka perlu diganti. Jika pada kemasan tidak tertera tanggal kedaluwarsanya, maka paket air minum darurat tersebut perlu diganti setelah berusia 5 (lima) tahun.

Jika air minum darurat dikemas dengan kemasan kaleng, maka perlu dilakukannya pemeriksaan ke-vakuman dengan uji slap. Jika pada uji slap terdengar suara klik apapun, maka hal itu menjadi bukti vakum pada kemasan dapat diterima. Jika diantaranya terdapat kemasan kaleng yang meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan dengan membuka beberapa kaleng diantaranya. Jika saat pembukaan kaleng terdengar suara desisan terus-menerus, maka sisa kaleng yang diragukan dapat diterima dan tidak perlu pemeriksaan dengan membuka kemasan. Untuk kemasan yang telah terbuka dapat diganti.

Jika air minum darurat dikemas dengan kemasan fleksibel, maka hanya perlu pemeriksaan dengan meremas kemasan menggunakan tangan.

Air minum darurat di Lifeboat yang tidak dikemas dalam bagian-bagian kecil atau disimpan pada jumlah yang besar dalam sebuah tangki harus diganti setiap inspeksi. Tangki air minum darurat ini harus dibersihkan secara menyeluruh sebelum kembali diisi dengan air. 

Nah KawanLaut, sekian penjelasan terkait makanan dan minuman darurat yang terdapat pada survival kit. Semoga melalui penjelasan singkat ini dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan meningkatkan wawasan KawanLaut terkait alat keselamatan pelayaran lebih lanjut! 

Referensi

Bryan, E. (2013). Demo: SeaPack - Emergency Desalinator. Retrieved Mei 13, 2022, from You Tube: https://www.youtube.com/watch?v=AmvD6nrbizQ

dNet, R. (2021). Begini Ternyata Cara Mengubah Air Laut Menjadi Air Tawar - Desalination Plant. Retrieved Mei 14, 2022, from You Tube: https://www.youtube.com/watch?v=yNeVHZnFr-o

Indonesia, G. B. (2021, Agustus 2). Seawater Reverse Osmosis (SWRO) Mengubah Air Laut Menjadi Air Siap Konsumsi. Retrieved Mei 14, 2022, from You Tube: https://www.youtube.com/watch?v=t-RcbS2jwO0

INTERNATIONAL LIFE-SAVING APPLIANCE (LSA) CODE. (2008). CHAPTER IV - SURVIVAL CRAFT. In I. L.-S. CODE, INTERNATIONAL LIFE-SAVING APPLIANCE (LSA) CODE (pp. 17-19, 34-35). INTERNATIONAL LIFE-SAVING APPLIANCE (LSA) CODE.

International Maritime Organization. (2002). PERFORMANCE STANDARDS AND PERFORMANCE TESTS FORMANUALLY POWERED REVERSE OSMOSIS DESALINATORS. MSC/Circular 1048 (pp. 1-5). London: International Maritime Organization.

International Organization for Standardization. (2006). Ships and marine technology — Survival equipment for survival craft and rescue boats. International Organization for Standardization (pp. 11-13, 22). Switzerland: International Organization for Standardization.

Mackintosh, G. (2013, Juli 3). Katadyn Survivor 35 reverse osmosis desalinator. Retrieved Mei 14, 2022, from You Tube: https://www.youtube.com/watch?v=YnVKWCZdIIo

Online, Marine;. (2019). Lifeboats and Liferafts Survival Kit Accessories. Retrieved May 13, 2022, from Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=r4yWdd0i8HI

Ragetisvara, A. A., & Sulistiyaning, H. (2021). Studi Kemampuan Desalinasi Air Laut Menggunakan Sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) pada Kapal Pesiar. Jurnal Teknik ITS, 1-6.

Safitri, R. U. (2020, Oktober 23). Bagaimana Proses dan Cara Kerja Desalinasi Air Laut? Retrieved Mei 14, 2022, from Adika Tirta Daya: https://adikatirtadaya.co.id/bagaimana-proses-dan-cara-kerja-desalinasi-air-laut/

Spealman, C. R. (1944). THE CHEMICAL REMOVAL OF SALTS FROM SEA WATER TO PRODUCE POTABLE WATER. Science, 185.

Survival, P. (2011, Februari 21). Survival at Sea: Reverse Osmosis Pump. Retrieved Mei 14, 2022, from You Tube: https://www.youtube.com/watch?v=4xX33EwSiwY

UNY, C. E. (2019, Ferbruari 4). Percobaan Osmosis dan Osmosis Balik/Reverse Osmosis (RO). Retrieved Mei 14, 2022, from You Tube: https://www.youtube.com/watch?v=mop9RVz1vNY&t=590s

US MILITARY EMERGENCY SEA WATER DESALTER KIT ~NOS~. (n.d.). Retrieved Mei 13, 2022, from Worth Point: httpswww.worthpoint.com/worthopedia/us-military-emergency-sea-water-desalter-kit-7

 


Sunday, May 29, 2022

Line Throwing Kapal, Apa Sih?

HALLO KAWANLAUT! Kalian tau gak sih kalau ada banyak pihak yang bertanggung jawab akan keselamatan dalam bidang pelayaran kapal, diantaranya perusahaan kapal, regulator pelayanan, penumpang, anak buah kapal, dan sebagainya. Khusus untuk perusahaan kapal dan para awak kapal, mereka memiliki tanggung jawab untuk menyediakan alat keselamatan kapal yang memadai dan anak buah kapal yang berkompeten atau mengetahui hal-hal dalam menggunakan alat-alat keselamatan tersebut. Tentu kita tidak ingin jika naik kapal tetapi tidak memiliki peralatan keselamatan kapal yang memadai bukan? Nah, salah satu alat keselamatan kapal yang perlu kita ketahui dan akan kita bahas pada artikel kali ini adalah Line Throwing Kapal. Apa yang dimaksud dengan Line Throwing serta fungsi Line Throwing? Yuk, simak pembahasan berikut!

1. Apa itu Line Throwing

    Line Throwing atau biasa dikenal juga sebagai roket pelontar tali atau pelempar tali penolong. Fungsi dari Line Throwing adalah sebagai alat pelontar tali penolong atau pelempar tali sebagai penghubung antara kapal yang menolong dengan kapal yang ditolong. Dengan adanya tali tersebut, kedua kapal akan lebih mudah untuk saling mendekat. Selain sebagai penghubung antar kapal, Line Throwing juga dipakai untuk menolong orang atau korban yang terjatuh dari kapal pada saat keadaan darurat. Diharapkan korban dapat meraih tali yang dilemparkan, kemudian ditarik ke kapal penyelamat, atau bisa juga disambungkan ke sekoci yang selanjutnya akan ditarik ke arah kapal penyelamat. 



Contoh ilustrasi Line Throwing sebagai penghubung antar kapal
Sumber : marineinsight.com


Banyak orang bertanya, kenapa tali ini tidak dilempar pakai tangan kosong atau secara manual saja? Karena dengan menggunakan Line Throwing, maka tali dapat dilemparkan dengan jarak yang cukup jauh jika dibandingkan dengan melontarkan secara manual atau dengan menggunakan tangan kosong. Bahkan dengan seorang atlet pelempar jauh sekalipun, jarak lemparan tali dengan menggunakan Line Throwing bisa lebih jauh loh. 

2. Jenis dan Bentuk Line Throwing 

    Line Throwing atau roket pelontar mempunyai bentuk seperti tabung besar, dengan pegangan pada salah satu sisinya. Selayaknya alat keselamatan pada umunya, warna oranye mendominasi alat ini. Di dalam tabung terdapat tali sepanjang ratusan meter berwarna putih, dan sebuah roket kecil panjang yang dikaitkan ke salah satu ujung tali. Pada bagian badan tabung tertulis cara atau petunjuk pemakaian perangkat tersebut. Cara menggunakan perangkat ini cukup mudah, yaitu dengan mengarahkan Line Throwing atau roket pelempar pada titik sasaran, kemudian tarik pelatuk yang berada dibagian pegangan tabung (seperti menembakan senjata atau pistol), begitu pelatuknya ditarik, maka roket akan meluncur dengan membawa tali. Selain berbentuk tabung besar yang telah dijelaskan, ada pula bentuk roket pelempar lainnya, seperti roket bahu atau senjata laras panjang. 


Berbagai Jenis Line Throwing Apparatus
Sumber : berbagai sumber 

3. Cara Menggunakan Line Throwing Apparatus 

    Cara menggunakannya mudah. Pertama, tarik safety pin. Kedua, arahkan Line Throwing ke arah target yang dihendaki. Ketiga, tekan tuas untuk mengaktifkan roket. Dengan demikian, tali akan segera terlempar ke arah target. Setiap merek memiliki spesifikasi dan bentuk Line Throwing yang berbeda-beda, namun pada prinsipnya kurang lebih serupa. Perhatikanlah instruksi pemakaian yang terdapat pada kemasan. 



Ilustrasi cara pengoperasian Line Throwing 
Sumber : velascoindonesia.com


Jauh tidaknya lemparan tali juga dapat dipengaruhi oleh sudut lemparan atau arah lemparan yang tepat, dimana direkomendasikan sudut lemparan adalah 45 derajat terhadap geladak kapal sehingga alat penembak dapat melintas jarak terjauh. Selain itu, dengan mengarahkan alat ke arah angin bergerak dapat meningkatkan area jangkauannya. Jadi tidak asal dilemparkan saja. Lemparan tali yang jauh oleh Line Throwing itu dihasilkan dari mekanisme kerja alat keselamatan ini yang menggunakan bantuan reaksi kimia. Oleh sebab itu, perangkat keselamatan ini digolongkan ke dalam jenis alat piroteknik. 



Ilustrasi Peluncuran Line Throwing
Sumber : marineinsight.com


4. Line Throwing Sesuai Standar SOLAS

    Setiap alat transportasi wajib memiliki alat safety, tidak terkecuali kapal laut. Mengingat telah banyak terjadi kecelakaan kapal laut, maka secara internasional telah disepakati sebuah panduan keamanan yang tertuang dalam SOLAS atau Safety of Life at Sea, dimana SOLAS ini mengatur standar alat keselamatan anak buah kapal. 

Lebih lanjut, International Life Saving Appliance Code (LSA Code) memberikan spesifikasi dan rician tentang standar yang harus diikuti oleh semua peralatan yang dianggap diklasifikasikan sebagai Life Saving Appliances, yakni dengan memberlakukan standar dari Bab 3 SOLAS 1974 - Life-Saving Appliances and Arrangements. SOLAS mencatat semua kriteria alat keselamatan yang harus ada pada setiap kapal, seperti pelampung, jaket pelampung, suar, sekoci, dan salah satunya adalah Line Throwing

Pada Regulasi 7.1.1 Bab 7 dari LSA Code memberikan standar spesifikasi berikut untuk semua peralatan Line Throwing: 
  1. Mempunyai akurasi yang baik ketika dilempar ke titik sasaran. 
  2. Memiliki minimum 4 buah alat penembak (projectiles) yang dapat melempar tali sejauh sekurang-kurangnya 230 meter dalam kondisi cuaca normal. 
  3. Setiap kapal wajib memiliki peralatan Line Throwing setidaknya 4 buah dengan kekuatan tarik minimum 2 kilo Newton (2kN). 
  4. Memiliki instruksi atau petunjuk pemakaian yang tercantum pada badan perangkat secara jelas menggambarkan penggunaan dan pengoperasian peralatan pelempar tali. 
Regulasi 7.1.2 Bab 7 LSA Code menyatakan bahwa Line Throwing harus ditempatkan di dalam tempat yang kedap air. Line Throwing dapat mencakup berupa hanya roket, termasuk roket yang ditembakkan dengan pistol, atau roket dan tali yang menyatu. Selanjutnya dinyatakan bahwa dalam hal roket yang ditembakkan dengan pistol, rakitan roket dan tali harus disimpan dalam tempat bersamaan dengan alat pemantik. Hal ini untuk memungkinkan tindakan cepat apabila terjadi keadaan darurat. Tempat penyimpanan harus terlindung dengan baik dari berbagai jenis cuaca. 

Tujuan dari standar keselamatan ini adalah untuk mencegah terjadinya insiden yang tidak diinginkan. Peralatan pelempar tali memiliki berbagai macam aplikasi, dan perhatian khusus yang harus diberikan untuk memastikan bahwa peralatan tersebut dirawat dan dipelihara secara rutin. 

REFERENSI


[1] https://www.safety-marine.com/2022/05/line-throwing-alat-keselamatan-pada.html (Diakses April 2022)

[2] https://velascoindonesia.com/mengenal-alat-safety-kapal-line-throwing/ (Diakses Mei 2022)

[3] https://velascoindonesia.com/line-throwing-alat-safety/ (Diakses April 2022)

[4] https://marineinsight.com/naval-architecture/what-are-line-throwing-apparatus-on-ships/ (Diakses April 2022)

[5] https://www.facebook.com/lalizas/photos/4921583131202236 (Diakses Mei 2022)

[6] library.poltekpel-sby.ac.id (Diakses Mei 2022)

[7] http://repository.unimar-ammi.ac.id/2427/BAB%202.pdf (Diakses Mei 2022)






Tuesday, May 17, 2022

Mengenal Tentang Pengujian Lifeboat

Hallo KawanLaut!

PENGUJIAN MATERIAL
Uji Ketahanan Material terhadap Api

Peralatan Pengujian 

  • Peralatan uji bakar 
  • Bahan lambung dan kanopi diuji nyala untuk menentukan karakteristik tahan api

Uji Apung Material Sekoci

Memiliki kriteria penerimaan dengan pengurangan daya apung tidak boleh lebih dari 5%, serta spesimen tidak boleh menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
  • Peralatan uji apung
  • Peralatan uji siklus suhu
  • Minyak dengan oktan tinggi
  • Timbangan
  • Alat ukur panjang
Material direndam untuk jangka waktu 14 hari di bawah 100 mm. 

UJI KELEBIHAN MUATAN SEKOCI

Sekoci yang diluncurkan Davit

  • Sekoci yang akan diturunkan diletakkan di atas balok atau digantung dari kait pengangkat.
  • Sekoci juga diberi bobot yang didistribusikan merata. 
  • Bobot diberi beban tambahan 25%, 50%, 75%, dan 100% lebih besar dari berat perlengkapan sekoci (diukur & dicatat), 
  • Bobot kemudian dihapus dan dimensi sekoci diperiksa. 


Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Tidak boleh terjadi defleksi residual yang signifikan
  • Jika sekoci terbuat dari GRP (glass-reinforced polyester), maka pengukuran dilakukan selang waktu yang cukup agar GRP memulihkan bentuk aslinya (kurang-lebih 18 jam)
Sekoci Jatuh Bebas (Free-Fall)

  • Sekoci diberi muatan terdistribusi secara merata dengan massa jumlah orang yang disetujui dan peralatannya. 
  • Sekoci diluncurkan 1,3 kali lebih tinggi dari yang disetujui. Uji dilakukan dengan menjatuhkan sekoci secara vertical
  • Setelah dijatuhkan sekoci diperiksa tingkat kerusakan yang mungkin terjadi.


Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Tidak adanya kerusakan yang mempengaruhi efisiensi sekoci
  • Jika terdapat defleksi pada lambung dan kanopi, dipastikan tidak membahayakan penumpang
Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
  • Davit (dewi-dewi)
  • Alat ukur panjang (penggaris, meteran, dan sebagainya)
  • Timbangan
  • Kolam
UJI BENTURAN DAN UJI JATUH PADA SEKOCI DAVIT

Uji Benturan

  • Sekoci diberi beban sebagai jumlah massa penumpang beserta perlengkapannya. 
  • Beban di distribusikan sebesar 100 kg pada setiap kursi sekoci. 
  • Sekoci dalam posisi tergantung bebas, dan ditarik ke samping dengan kecepatan 3,5 m/s

 
Uji Jatuh

  • Sekoci dilengkapi dengan mesin, dan dimuat beban sesuai jumlah massa penumpang sekoci. 
  • Diberi beban sebesar 100 kg pada setiap kursi sekoci. 
  • Sekoci digantung di atas air dengan jarak titik sekoci terendah ke air yaitu 3 m, 
  • Lalu sekoci dilepaskan jatuh bebas ke air.

Uji Operasional Setelah Uji Benturan dan Uji Jatuh

  • Sekoci diturunkan dan diperiksa untuk melihat posisi dan tingkat kerusakan yang mungkin terjadi, 
  • Dan uji operasional dilakukan sesuai dengan uji pengoperasian mesin dan konsumsi bahan bakar.


Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Sekoci diperiksa apakah ada kerusakan yang mempengaruhi fungsi sekoci
  • Mesin dan peralatan lainnya masih bisa dioperasikan
  • Tidak ada masuknya air laut yang signifikan telah terjadi
Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
  • Beban sebesar 100 kg
  • Fender atau sepatu roda

UJI JATUH BEBAS SEKOCI (FREE-FALL)

Uji Jatuh Bebas (Reqiired) 
  • Sekoci diluncurkan dari ketinggian dimana sekoci tersebut dilemparkan. 
  • Sekoci dimuati penuh (peralatan dan setengah jumlah penumpang yang disetujui).
  • Percepatan gaya diukur dan diakselerasi di tempat yang berbeda. 


Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Kekuatan akselerasi sesuai dengan table batas perpindahan dan batas percepatan
  • Selama peluncuran, lifeboat harus dalam keadaan stabil
Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
  • Stopwatch
  • Alat pengukur jarak
  • Timbangan
UJI KEKUATAN TEMPAT DUDUK SEKOCI

Sekoci yang diluncurkan Davit

  • Sekoci diberi beban sebesar 100 kg pada setiap kursi di sekoci. 
  • Tempat duduk tidak mengalami deformasi atau kerusakan permanen.

Sekoci Jatuh Bebas (Free-Fall)

  • Sekoci diberi beban sebesar 100 kg pada setiap kursi di sekoci. 
  • Tempat duduk dapat mendukung muatan ini selama peluncuran jatuh bebas dari ketinggian 1,3 kali tinggi yang disetujui, tanpa ada yang permanen deformasi atau kerusakan. 
  • Tempat duduk tidak boleh ada deformasi/kerusakan permanen.

UJI RUANG TEMPAT DUDUK LIFEBOAT


  • Sekoci dilengkapi dengan mesin dan perlengkapannya. 
  • Jumlah orang yang disetujui memiliki massa rata-rata 75 kg (sekoci untuk kapal penumpang) atau 82,5 kg (sekoci untuk kapal kargo) dengan mengenakan baju pelampung dan peralatan lainnya.

Kriteria penerimaan terdiri dari :
Sekoci bermanuver untuk melihat bahwa dengan adanya penumpang dan perlengkapan, dapat dioperasikan tanpa adanya gangguan

Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
Beban 75 kg hingga 100 kg

UJI LAMBUNG TIMBUL DAN UJI STABILITAS

Uji Lambung Timbul


  • Sekoci dan mesinnya dimuat dengan setengah dari jumlah orang pada sekoci yang disetujui, duduk di posisi duduk yang tepat satu sisi garis tengah, 
  • Dan lambung timbul diukur pada sisi rendah.

Kriteria penerimaan terdiri dari :
Lambung timbul > 1,5% L sekoci atau 100 mm (mana yang lebih besar)

Peralatan yang dibutuhkan saat pengujian, berupa :
Meteran

Uji Stabilitas saat Tergenang


  • Sekoci diuji dengan memuat peralatan dan perlengkapan
  • Sekoci yang dilengkapi dengan kompartemen penyimpanan kedap air harus disegel kedap air
  • Ballast dengan berat dan densitas yang setara harus diganti dengan mesin dan peralatan terpasang lainnya yang dapat dirusak oleh air
  • pemberat yang mewakili kursi-kursi penumpang tidak digenangi air
Kriteria penerimaan terdiri dari :
Sekoci memiliki stabilitas positif apabila ketika diisi dengan air tidak mengalami kehilangan daya apung dan tidak ada kerusakan

UJI MEKANISME PELUNCURAN 

Sekoci yang diluncurkan Davit



  • Sekoci dalam kondisi digantung di atas air d
  • Sekoci memuat massa total sebesar jumlah orang yang disetujui dan jumlah perlengkapan. 
  • Sekoci akan diluncurkan tanpa merusak bagian-bagian sekoci 
  • Dan dipastikan bahwa sekoci penolong akan meluncur sepenuhnya di air dalam kondisi ringan dan dalam kondisi kelebihan beban 10%.
Sekoci Jatuh Bebas


  • Peluncuran jatuh bebas dimuat dengan gaya yang sama setidaknya 200% dari beban normal. 
  • Sekoci dimuati oleh jumlah orang yang disetujui. 
UJI OPERASIONAL 

Uji Pengoperasian Mesin dan Konsumsi Bahan Bakar

Mesin dinyalakan dan bermanuver setidaknya selama 4 jam. Kecepatan tidak kurang dari 6 knot (lengkap). 

Kriteria penerimaan terdiri dari :
  • Dalam periode tersebut, dipastikan konsumsi bahan bakar cukup
  • Tangki bahan bakar memiliki kapasitas yang cukup
Uji Start Mesin Kondisi Dingin




  • Untuk pengujian ini, mesin akan dilepas dari sekoci. 
  • Mesin, bahan bakar dan cairan pendingin ditempatkan dalam ruang pada suhu -15 derajat celcius. 
  • Kemudian mesin akan dinyalan 3 kali dengan instruksi 2 kali pertama dinyalakan sampai mencapai suhu ruang, dan yang terakhir dinyalakan hingga 10 menit

Uji Mesin di Luar Air


Kriteria penerimaan terdiri dari :
Mesin tidak boleh mengalami kerusakan

Uji Mesin Terendam Air



Kriteria penerimaan terdiri dari :
Mesin tidak boleh mengalami kerusakan

Kompas


  • Dipastikan kinerja kompas memuaskan 
  • Kinerja kompas tidak dipengaruhi oleh perlengkapan magnetis lainnya yang ada pada sekoci. 
Uji Pemulihan Hidup (Survival Recovery Test)




Dibuktikan dengan menguji/mempraktekkan orang yang tidak berdaya dari laut naik ke sekoci.

UJI DEREK DAN PELUNCURAN TAMBAT

Uji Derek



  • Sekoci dimuat dengan massa yang didistribusikan merata dengan massa jumlah orang yang disetujui. 
  • Sekoci dapat ditarik dengan kecepatan tidak kurang dari 5 knot dalam air yang tenang dan secara merata. 
  • Tidak boleh ada kerusakan sekoci atau perlengkapan setelah pengujian.
Uji Peluncuran Sekoci Davit dengan Tambat


Dapat melepaskan tambat di sekoci yang sedang ditarik dengan v tidak kurang dari 5 knot dalam air tenang.

Uji Lampu Sekoci 


  • Lampu-lampu pada sekoci di uji suhu (lampu kanopi, lampu interior dll). 
  • Mengikuti setidaknya sepuluh siklus suhu lengkap
  • Untuk lampu yang berkedip setidaknya tidak kurang dari 50 kedipan dan tidak lebih dari 70 kedipan per menit.

Uji Penegakan Kanopi 



  • Pengujian hanya dilakukan untuk sekoci yang tertutup sebagian. 
  • Sekoci juga diisi dengan jumlah orang yang disetujui. 
  • Kanopi dapat dengan mudah didirikan oleh tidak lebih dari dua orang.

UJI TAMBAHAN UNTUK SEKOCI YANG TERTUTUP PENUH 

Uji Self-Righting


Sekoci di kondisi tertutup, secara bertahap diputar hingga 180 derajat celcius dan setelah itu sekoci dapat kembali ke posisi semula tanpa bantuan penumpangnya. Pengujian dilakukan dalam kondisi muatan sebagai berikut :
  • Sekoci dan mesinnya dalam kondisi normal
  • Bobot setiap orang diasumsikan dengan massa rata-rata 75 kg
  • Diletakkan di setiap tempat duduk sekoci
Uji Mengembalikan Posisi Ketika Tergenang


  • Sekoci ditempatkan di dalam air dan sepenuhnya terendam, 
  • Sekoci akan diputar sekitar sumbu memanjang ke sudut 180 derajat dan kemudian dilepaskan. 
  • Setelah rilis, sekoci akan mencapai posisi yang menyediakan pelarian di atas air penghuni
  • Massa dan distribusi penumpang diabaikan.
Uji Intervensi Mesin


  • Mesin akan dijalankan dengan kecepatan penuh selama 5 menit. 
  • Mesin lalu dihentikan dan dinyalakan kembali dengan kecepatan penuh selama 10 menit, lalu dinginkan 
  • Nyalakan kembali selama 5 menit. 
  • Putar mesin yang sedang berjalan searah jarum jam 180 derajat, tahan pada posisi 180 derajat selama 10 detik, lalu putar 180 derajat lebih jauh ke arah searah jarum jam untuk 1 putaran. 
  • Jika mesin bisa mati otomatis, nyalakan kembali dengan kecepatan penuh selama 10 menit, lalu matikan dan dinginkan (diulang sekali lagi), 
  • Kemudian bongkar mesin dan mesin siap diperiksa.
Kriteria penerimaan terdiri dari :
Mesin tidak boleh terlalu panas, gagal operasi, atau bocor lebih dari 250 mL minyak selama satu inversi.

UJI PASOKAN UDARA UNTUK SEKOCI DENGAN SISTEM PENDUKUNG UDARA MANDIRI 


  • Semua pintu masuk dan bukaan sekoci ditutup untuk memastikan persediaan udara didalam sekoci. 
  • Mesin dijalankan mencapai kecepatan penuh dengan sekoci terisi penuh dengan orang dalam jangka waktu 5 menit dan berhenti selama 30 detik. 
  • Kemudian mesin dijalankan kembali selama 10 menit dan dipastikan bahwa gas berbahaya tidak dapat masuk.

UJI TAMBAHAN UNTUK SEKOCI YANG TERLINDUNGI DARI API 

Uji Kebakaran

  • Sekoci ditambatkan di tengah area yang tidak kurang dari lima kali luas rencana maksimum yang di proyeksikan dari sekoci
  • Minyak tanah yang cukup mengambang di atas air, ketika dinyalan, api akan benar-benar menyelimuti sekoci dengan periode waktu yang ditentukan
  • mesin dijalankan dengan kecepatan penuh dan disistem pelindung gas dan api akan dioperasikan sepanjang uji kebakaran
  • Api dibiarkan menyala selama 8 menit
  • Selama uji kebakara, suhu diukur dan dicatat
  • Suhu akan di analisa apakah terdapat zat/gas beracun yang masuk ke dalam sekoci
  • Di akhir pengujian, sekoci di cek dan dilihat apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak

Uji Semprotan Air



Mesin dan pompa semprot dinyalakan. Air disemprotkan menutupi seluruh permukaan sekoci.


MENGUKUR DAN MENGEVALUASI KEKUATAN AKSELERASI 



Penempatan, dan Pemasangan Akselerometer

  • Accelerometer ditempatkan di sekoci (interior kaku) dengan getaran yang minim.
  • Accelerometer memiliki respons frekuensi setidaknya dalam kisaran 0 sampai 200 Hz
  • Memiliki akurasi kurang lebih 5 %
Metode dan Tingkat Perekaman
  • Gaya akselerasi direkam oleh sinyal digital atau plot kertas percepatan sinyal.
  • kekuatan akselerasi memiliki laju sampling setidaknya 500 sampel per detik



Thursday, May 5, 2022

Perawatan Lifeboat Itu Gimana Sih?

Hallo Kawanlaut! Perawatan Lifeboat dilakukan dalam rangka pemeliharaan rutin. Alat kontrol dan mesin yang diperiksa untuk memastikan apakah sesuai dengan keadaan awal berfungsi guna menjaga keadaan mesin dan mencegah timbulnya kerusakan mesin. 

Kegiatan perawatan berdasarkan pada perencanaan oleh pihak pemilik kapal memastikan keadaan kapal yang baik dan meminimalisir resiko kondisi yang menimbulkan tidak terpenuhinya keselamatan atas jiwa dan kapal. Untuk itu diperlukan pemeriksaan dan perawatan secara teratur agar peralatan pada Lifeboat dapat berfungsi dengan optimal. 

Mesin Lifeboat yakni mesin yang berfungsi mengoperasikan Lifeboat sehingga apabila kondisi tertentu Lifeboat harus digunakan maka Lifeboat dapat dioperasikan dengan segera pada setiap kondisi. 

Bagian mesin Lifeboat yang diwajiibkan untuk diperiksa dan dirawat agar berfungsi secara optimal, yaitu : 

  1. Accu
    Agar dapat mengetahui masih berfungsinya Accu dengan baik, dilakukan pemeriksaan dengan menyalakan mesin pada Lifeboat
  2. Radiator
    Mesin Lifeboat menggunakan radiator yakni menggunakan mekanisme dengan memindahkan energi panas dari satu elemen ke elemen lainnya yang tujuannya untuk mendinginkan. 
  3. Oli atau minyak pelumas
    Berfungsi agar mesin beroperasi secara halus dan berfungsi sebagai pendingin dan penyekat. Oli berfungsi mencegah terjadinya gesekan logam dengan logam atas komponen pada mesin serta mencegah timbulnya goresan pada bagian mesin. Pemeriksaan volume dan kualitas minyak pelumas sangat diperlukan jika terlalu lama tidak diganti akan berdampak kerusakan pada mesin. 
  4. Bahan Bakar
    Pemeriksaan tangki bahan bakar berguna untuk memastikan tangki terisi penuh sesuai dengan batas ketentuan. 
Pada saat akan melakukan start mesin perlu dilakukan pemeriksaan oli mesin pada Lifeboat, pemeriksaan level minyak bahan bakar terhadap tangki mesin, pemeriksaan Oil Steering, pemeriksaan kondisi accu/battery, pemeriksaan kemudi. 

Perawatan yang dilakukan untuk Lifeboat diantaranya : 
  1. Setiap Minggu
    Melakukan pemeliharaan alat penggerak, pemeriksaan kondisi accu/battery.
  2. Tiap 3 Bulan
    Melakukan pemeliharaan pembersihan filter, pemeriksaan kebocoran pada system exhaust manifold. 
  3. Tiap 6 Bulan
    Melakukan pemeliharaan dan pemeriksaan atas oil mesin dan gear box, pemeriksaan kondisi propeller, pipa-pipa dan baut-baut fondasi. 
  4. 30 Bulan 
    Open Up Survey, pemeriksaan cylinder head dan bagian-bagian utamanya, piston dan bagian-bagiannya, pemeriksaan kondisi main bearing dan crank pin bearing, cylinder liner, gear box, ring piston,  pemeriksaan kondisi propeller, pipa-pipa dan baut fondasi. 


Kenalan dengan Bahan Insulasi berdasarkan A dan B Class !

Hallo Kawanlaut ! sekarang kita kenalan yuk, dengan apa itu Bahan Insulasi? Insulasi Kelas A terdiri dari bahan seperti kapas, sutra, dan ke...